ASKEP DELIRIUM
![]() |
Disusun
oleh :
Karsam eko wijaya kusuma
STIKes KHARISMA KARAWANG
2015
ASUHAN
KEPERAWATAN
PADA
KLIEN DENGAN DELIRIUM
I. KONSEP DASAR
A. Pendahuluan
Psikosa secara sederhana dapat
didefinisikan sebai suatu gangguan jiwa dengan kehilangan rasa kenyataan (sense
of reality). Keadaa ini dapat digambarkan bahwa psikosa ialah gangguan jiwa
yang serius, yang timbuk karena penyebab organik ataupun emosional (fungsional)
dan yang menunjukkan ganggua kemampuan berpikir, bereakasi secara emosional,
mengingat, berkomunikasi, menafsirkan kenyataan dan bertindak sesuai dengan
kenyataan itu, sedemikian rupa sehingga kemampuan untuk memenuhi tuntutan hidup
sehari-hari sangat terganggu. Psikosa ditandai oleh perilaku yang regresif,
hiudp perasaan tidak sesuai ,
berkurangnya pengawasan terhadap impuls-impuls serta waham dan halusinasi.
Menninger telah menyebutkan lima sindroma
klasik yang menyertai sebagian besar pola psikotik :
1.
Perasan sedik, bersalah dan
tidak mampu yang mendalam
2.
keadaan terangsang yang tidak menentu dan
tidak terorganisasi, disertai pembicaraan dan motorilk yang berlebihan
3.
regresi ke otisme manerisme
pembicaran dan perilaku, isi pikiran yanng berlawanan, acuh tak acuh terhadap
harapan sosial.
4.
preokupasi yang berwaham,
disertai kecurigaan, kecendrungan membela diri atau rasa kebesaran
5.
keadaan bingung dan delirium
dengan disorientasi dan halusinasi.
B. Pengertian
Delirium adalah sindroma otak organik
karena fungsi atau metabolisme otak secara umum atau karena keracunan yan
menghambat mnetabolisme otak.
C. Gejala
Gejala utama ialah kesadaran menurun.
Kesadaran yang menurun ialah suatu keadaan dengan kemampuan persepsi perhatian
dan pemikiran yan berkurang secara keseluruhan (secara kuantitatif).
Gejala-gejala lainnya penderita tidak mampu
mengenal orang dan berkomunikasi dengan baik, ada yang bingung atau cemas,
gelisah dan panik, adanya klien yan
terutama halusinasi dan ada yang hanya berbicara komat-kamit dan inkohern.
Dari gejala-gejala psikiatrik tidak dapat
diketahui etiologi penyakit badaniah itu, tetapi perlu dilakukan pemeriksaan
intern dan nerologik yang teliti. Gejala tersebut lebih ditentukan oleh keadaan
jiwa premorbidnya, mekanisme pembelaaan psikologiknya, keadaan psikososial,
sifat bantuan dari keluarga, teman dan petugas kesehatan, struktur sosial serta
ciri-ciri kebudayaan sekelilingnya.
D. Psikopatologi
Delirium biasanya hilang bila penyakit
badaniah yang menyebabkan sudah sembuh, mungkin sampai kira-kira 1 bulan
sesudahnya. Gangguan jiwa yang psikotik atau nonpsikotik yang disebabkan oleh
gangguan jaringan fungsi otak. Gangguan fungsi jaringan otak ini dapat
disebabkan oleh penyakit badaniah yang terutama mengenai otak
(meningoensephalitis, gangguan pembuluh darah ootak, tumur otak dan sebagainya)
atau yang terutama di luar otak atau tengkorak (tifus, endometriasis, payah
jantung, toxemia kehamilan, intoksikasi dan sebagainya). Bila bagian otak yang
terganggu itu luas, maka gangguan dasar mengenai fungsi mental sama saja, tidak
tergantung pada penyakit yang menyebabkannya. Jika disebabkan oleh proses yang
langsung menyerang otak , bila proses itu sembuh maka gejala-gejalanya
tergantung pada besarnya kerusakan yang ditinggalkan gejala-gejala neurologik
dan atau gangguan mental dengan gejala utama gangguan intelegensi. Bisa juga
didapatkan adanya febris. Terdapat gejala psikiatrik bila sangat mengganggu
dapat diberikan neroleptika, terutama yang mempunyai dosis efektif tinggi.
E. Penatalaksanaan
a.
Pengobatan etiologik harus
sedini mungkin dan di samping faal otak
dibantu agar tidak terjadi kerusakan otak yang menetap.
b.
Peredaran darah harus
diperhatikan (nadi, jantung dan tekanan darah), bila perlu diberi stimulansia.
c.
Pemberian cairan harus cukup,
sebab tidak jarang terjadi dehidrasi. Hati-hati dengan sedativa dan narkotika
(barbiturat, morfin) sebab kadang-kadang tidak menolong, tetapi dapat
menimbulkan efek paradoksal, yaitu klien tidak menjadi tenang, tetapi bertambah
gelisah.
d.
Klien harus dijaga terus,
lebih-lebih bila ia sangat gelisah, sebab berbahaya untuk dirinya sendiri
(jatuh, lari dan loncat keluar dari jendela dan sebagainya) ataupun untuk orang
lain.
e.
Dicoba menenangkan klien dengan
kata-kata (biarpun kesadarannya menurun) atau dengan kompres es. Klien mungkin
lebih tenang bila ia dapat melihat orang atau barang yang ia kenal dari rumah.
Sebaiknya kamar jangan terlalu gelap , klien tidak tahan terlalu diisolasi.
f. Terdapat gejala psikiatrik bila sangat mengganggu dapat diberikan
neroleptika, terutama yang mempunyai dosis efektif tinggi.
II. ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Identitas
Indentias klien meliputi nama, umur, jenis
kelamin, suku bangsa/latar belakang kebudayaan, status sipil, pendidikan,
pekerjaan dan alamat.
2. Keluhan utama
Keluhan utama atau sebab utama yang
menyebbkan klien datang berobat (menurut klien dan atau keluarga). Gejala utama
adalah kesadaran menurun.
3. Faktor predisposisi
Menemukan gangguan jiwa yang ada sebagai
dasar pembuatan diagnosis serta menentukan tingkat gangguan serta menggambarkan
struktur kepribadian yang mungkin dapat menerangkan riwayat dan perkembangan
gangguan jiwa yang terdapat. Dari gejala-gejala psikiatrik tidak dapat
diketahui etiologi penyakit badaniah itu, tetapi perlu dilakukan pemeriksaan
intern dan nerologik yang teliti. Gejala tersebut lebih ditentukan oleh keadaan
jiwa premorbidnya, mekanisme pembelaaan psikologiknya, keadaan psikososial,
sifat bantuan dari keluarga, teman dan petugas kesehatan, struktur sosial serta
ciri-ciri kebudayaan sekelilingnya. Gangguan jiwa yang psikotik atau
nonpsikotik yang disebabkan oleh gangguan jaringan fungsi otak. Gangguan fungsi
jaringan otak ini dapat disebabkan oleh penyakit badaniah yang terutama
mengenai otak (meningoensephalitis, gangguan pembuluh darah ootak, tumur otak
dan sebagainya) atau yang terutama di luar otak atau tengkorak (tifus,
endometriasis, payah jantung, toxemia kehamilan, intoksikasi dan sebagainya).
4. Pemeriksaan fisik
Kesadran yang menurun dan sesudahnya
terdapat amnesia. Tensi menurun, takikardia, febris, BB menurun karena nafsu
makan yang menurun dan tidak mau makan.
5. Psikososial
a. Genogram Dari hasil penelitian ditemukan
kembar monozigot memberi pengaruh lebih tinggi dari kembar dizigot .
b. Konsep diri
·
Ganbaran diri, tressor yang
menyebabkan berubahnya gambaran diri karena proses patologik penyakit.
·
Identitas, bervariasi sesuai
dengan tingkat perkembangan individu.
·
Peran, transisi peran dapat
dari sehat ke sakit, ketidak sesuaian antara satu peran dengan peran yang lain
dan peran yang ragu diman aindividu tidak tahun dengan jelas perannya, serta
peran berlebihan sementara tidak mempunyai kemmapuan dan sumber yang cukup.
·
Ideal diri, keinginann yang
tidak sesuai dengan kenyataan dan kemampuan yang ada.
·
Harga diri, tidakmampuan dalam
mencapai tujuan sehingga klien merasa harga dirinya rendah karena kegagalannya.
c. Hubungan sosial
Berbagai faktor di masyarakat yang membuat
seseorang disingkirkan atau kesepian, yang selanjutnya tidak dapat diatasi sehingga
timbul akibat berat seperti delusi dan halusinasi. Konsep diri dibentuk oleh
pola hubungan sosial khususnya dengan orang yang penting dalam kehidupan
individu. Jika hubungan ini tidak sehat
maka individu dalam kekosongan internal. Perkembangan hubungan sosial
yang tidak adeguat menyebabkan kegagalan individu untuk belajar mempertahankan
komunikasi dengan orang lain, akibatnya klien cenderung memisahkan diri dari
orang lain dan hanya terlibat dengan pikirannya sendiri yang tidak memerlukan
kontrol orang lain. Keadaa ini menimbulkan kesepian, isolasi sosial, hubungan
dangkal dan tergantung.
d. Spiritual
Keyakina klien terhadapa agama dan
keyakinannya masih kuat.a tetapi tidak atau kurang mampu dalam melaksnakan
ibadatnmya sesuai dengan agama dan kepercayaannya.
6. Status mental
a. Penampila klien tidak rapi dan tidak
mampu utnuk merawat dirinya sendiri.
b. Pembicaraan keras, cepat dan inkoheren.
c. Aktivitas motorik, Perubahan motorik
dapat dinmanifestasikan adanya peningkatan kegiatan motorik, gelisah, impulsif,
manerisme, otomatis, steriotipi.
d. Alam perasaan
Klien nampak ketakutan dan putus asa.
e. Afek dan emosi.
Perubahan afek terjadi karena klien
berusaha membuat jarak dengan perasaan tertentu karena jika langsung mengalami
perasaa tersebut dapat menimbulkan ansietas. Keadaan ini menimbulkan perubahan
afek yang digunakan klien untukj melindungi dirinya, karena afek yang telah
berubahn memampukan kien mengingkari dampak emosional yang menyakitkan dari
lingkungan eksternal. Respon emosional klien mungkin tampak bizar dan tidak
sesuai karena datang dari kerangka pikir yang telah berubah. Perubahan afek
adalah tumpul, datar, tidak sesuai, berlebihan dan ambivalen.
f. Interaksi selama wawancara
Sikap klien terhadap pemeriksa kurawng
kooperatif, kontak mata kurang.
g. Persepsi
Persepsi melibatkan proses berpikir dan
pemahaman emosional terhadap suatu obyek. Perubahan persepsi dapat terjadi pada
satu atau kebiuh panca indera yaitu penglihatan, pendengaran, perabaan,
penciuman dan pengecapan. Perubahan persepsi dapat ringan, sedang dan berat
atau berkepanjangan. Perubahan persepsi yang paling sering ditemukan adalah
halusinasi.
h. Proses berpikir
Klien yang terganggu pikirannya sukar
berperilaku kohern, tindakannya cenderung berdasarkan penilaian pribadi klien
terhadap realitas yang tidak sesuai dengan penilaian yang umum diterima.
Penilaian realitas secara pribadi oleh
klien merupakan penilaian subyektif yang dikaitkan dengan orang, benda atau
kejadian yang tidak logis.(Pemikiran autistik). Klien tidak menelaah ulang
kebenaran realitas. Pemikiran autistik dasar perubahan proses pikir yang dapat
dimanifestasikan dengan pemikian primitf, hilangnya asosiasi, pemikiran magis,
delusi (waham), perubahan linguistik (memperlihatkan gangguan pola pikir
abstrak sehingga tampak klien regresi dan pola pikir yang sempit misalnya
ekholali, clang asosiasi dan neologisme.
i. Tingkat kesadaran
Kesadran yang menurun, bingung.
Disorientasi waktu, tempat dan orang.
j. Memori
Gangguan daya ingat yang baru saja terjadi
)kejadian pada beberapa jam atau hari yang lampau) dan yang sudah lama
berselang terjadi (kejadian beberapa tahun yang lalu).
k. Tingkat konsentrasi
Klien tidak mampu berkonsentrasi
l. Kemampuan penilaian
Gangguan ringan dalam penilaian atau
keputusan.
7. Kebutuhan klien sehari-hari
a. Tidur, klien sukar tidur karena cemas,
gelisah, berbaring atau duduk dan gelisah . Kadang-kadang terbangun tengah
malam dan sukar tidur kemabali. Tidurnya mungkin terganggu sepanjang malam,
sehingga tidak merasa segar di pagi hari.
b. Selera makan, klien tidak mempunyai
selera makan atau makannya hanya sedikit, karea putus asa, merasa tidak
berharga, aktivitas terbatas sehingga bisa terjadi penurunan berat badan.
c. Eliminasi
Klien mungkin tergnaggu buang air kecilnya,
kadang-kdang lebih sering dari biasanya, karena sukar tidur dan stres.
Kadang-kadang dapat terjadi konstipasi, akibat terganggu pola makan.
8. Mekanisme koping
Apabila klien merasa tridak berhasil,
kegagalan maka ia akan menetralisir, mengingkari atau meniadakannya dengan
mengembangkan berbagai pola koping mekanisme. Ketidak mampuan mengatasi secara
konstruktif merupakan faktor penyebab primer terbentuknya pola tiungkah laku
patologis. Koping mekanisme yang digunakan seseorang dalam keadaan delerium
adalah mengurangi kontak mata, memakai kata-kata yang cepat dan keras
(ngomel-ngomel) dan menutup diri.
9. Dampak masalah
a. Individu
·
Perilaku, klien muningkin
mengbaikan atau mendapat kesulitan dalam melakukan kegiatas sehari-hari seperti
kebersihan diri misalnya tidak mau mandi, tidak mau menyisir atau mengganti
pakaian.
·
Kesejahateraan dan konsep diri,
klien merasa kehilangan harga diri, harga diri rendah, merasa tidak berarti,
tidak berguna dan putus asa sehingga klien perlu diisolasi.
·
Kemadirian , klien kehilangan
kemandirian adan hidup ketergantungan pada keluarga atau oorang yang merawat
cukup tinggi, sehingga menimbulkan stres fisik.
10. Diagnosa Keperawatan
a.
Risiko terhadap penyiksaan pada
diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan berespon pada
pikiran delusi dan halusinasi.
b.
Koping individu yang tidak
efektif berhubungan dengan ketidakmampuan cara mengekspresikan secara
konstruktif.
c.
Perubahahn proses berpikir
berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mempercayai orang
d.
Risiko terjadi perubahan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang,
status emoosional yang meningkat.
e.
Kesukaran komunikasi verbal
berhubungan dengan pola komunikasi yang tak logis atau inkohern dan efek
samping obat-obatan, tekanan bicara dan hiperaktivitas.
f.
Kurangnya interaksi sosial (isolasi
sosial) berhubungan dengan sistem penbdukung yang tidak adequat.
g.
Kurangnya perawatan diri
berhubugan dengan kemauan yang menurun
h.
Perubahan pola tidur
berhubungan dengan hiperaktivitas, respon tubuh pada halusinasi.
i.
Ketidaktahuan keluarga dan klien
tentang efek samping obat antipsikotik berhubungan dengan kurangnya informasi.
B. Rencana Tindakan
a.
Risiko terhadap
penyiksaan pada diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan
berespon pada pikiran delusi dan halusinasi.
Batasan kriteria :
Sasaran jangka pendek :
Dalam 2 minggu klien dapat mengenal
tanda-tanda peningkatan kegelisahan dan melaprkan pada perwat agasr dapat
diberikan intervensi sesuai kebutuhan.
Sasaran jangka panjang :
Klien tidak akan membahayakan diri, orang
lain dan lingkungan selama di rumah sakit.
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
1. Pertahankan agar lingkungan klien pada
tingkat stimulaus yang rendah (penyinaran rendah, sedikit orang, dekorasi
yang sederhana dan tingakat kebisingan yang rendah)
2. Ciptakan lingkungan psikososial :
·
sikap perawat yang
bersahabat, penuh perhatian, lembuh dan hangat)
·
Bina hubungan saling percaya
(menyapa klien dengan rama memanggil nama klien, jujur , tepat janji, empati
dan menghargai.
·
Tunjukkan perwat yang bertanggung jawab
3. Observasi secara ketat perilaku klien
(setiap 15 menit)
4. Kembangkan orientasi kenyataan :
·
Bantu kien untuk mengenal
persepsinya
·
Beri umpan balik tentang
perilaku klien tanpa menyokong atau membantah kondoisinya
·
Beri kesempatan untuk
mengungkapkan persepsi an daya orientasi
5. Lindungi klien dan keluarga dari
bahaya halusinasi :
· Kajiu halusinasi klien
· Lakukan tindakan pengawasan ketat, upayakan tidak melakukan
pengikatan.
6. Tingkatkan peran serta keluarga pada
tiap tahap perawatan dan jelaskan prinsip-prinsip tindakan pada halusinasi.
7. Berikan obat-obatan antipsikotik
sesuai dengan program terapi (pantau keefektifan dan efek samping obat).
|
1. Tingkat ansietas atau gelisah akan
meningkat dalam lingkungan yang penuh stimulus.
2. Lingkungan psikososial yang terapeutik
akan menstimulasi kemampuan perasaan kenyataan.
3. Observasi ketat merupakan hal yang
penting, karena dengan demikian intervensi yang tepat dapat diberikan segera
dan untuk selalu memastikan bahwa kien berada dalam keadaan aman
4. Klien perlu dikembangkan kemampuannya
untuk menilai realita secara adequat agar klien dapat beradaptasi dengan
lingkungan.Klien yang berada dalam keadaan gelisah, bingung, klien tidak
menggunakan benda-benda tersebut untuk membahayakan diri sendiri maupun orang
lain.
5. Klien halusinasi pada faase berat
tidak dapat mengontrol perilakunya.
Lingkungan yang aman dan pengawasan yang tepat dapat mencegah cedera.
6. Klien yang sudah dapat mengontrol
halusinasinya perlu sokongan keluarga untuk mempertahnkannya.
7. Obat ini dipakai untuk mengendalikan
psikosis dan mengurangi tanda-tanda agitasi.
|
b.
Perubahan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang, status
emosional yang meningkat.
Batasan kriteria :
Penurunan berat badan, konjunctiva dan
membran mukosa pucat, turgor kulit jelek, ketidakseimbangan elktrolit dan
kelemahan)
Sasaran jangka pendek :
Klien dapat mencapai pertambahan 0,9 kg t
hari kemudian
Hasil laboratorium elektrolit sserum klien
akan kembali dalam batas normal dalam 1 minggu
Sasaran jangka panjang :
Klien tidak memperlihatkan tanda-tanda
/gejala malnutrisi saat pulang.
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
1. Monitor masukan, haluaran dan jumlah
kalori sesuai kebutuhan.
2. timbang berat badan setiap pagi
sebelum bangun
3. Jelaskan pentingnya nutrisi yang cukup
bagi kesehatan dan proses penyembuhan.
4. Kolaborasi
·
Dengan ahli gizi untuk
menyediakan makanan dalam porsi yang cukup sesuai dengan kebutuhan
·
Pemberian cairan
perparenteral (IV-line)
·
Pantau hasil laboraotirum
(serum elektrolit)
5. Sertakan keluarga dalam memnuhi
kebutuhan sehari-hari (makan dan kebutuhan fisiologis lainnya)
|
1. Informasi ini penting untuk membuat
pengkajian nutrisi yang akurat dan mempertahankan keamanan klien.
2. Kehilangan berat badan merupakan
informasi penting untuk mengethui perkembangan status nutrisi klien.
Klien mungkin tidak memiliki pengetahuan
yang cukup atau akurat berkenaan dengan kontribusi nutrisi yang baik untuk
kesehatan.
4. Kolaborasi :
· Klien lebih suka menghabiskan makan yang disukai oleh klien.
· Cairan infus diberikan pada klien yang tidak, kurang dalam
mengintake makanan.
· Serrum elektrolit yang normal menunjukkan adanya homestasis dalam
tubuh.
5. Perawat bersama keluarga harus
memperhatikan pemenuhan kebutuhan secara adequat.
|
c.
Kurangnya
interaksi sosial (isolasi sosial) berhubungan dengan sistem penbdukung yang
tidak adequat.
Batasan kriteria :
Kurang rasa percaya pada orang lain, sukar
berinteraksi dengan orang lain, komnuikasi yang tidak realistik, kontak mata kurang,
berpikir tentang sesuatu menurut pikirannya sendiri, afek emosi yang dangkal.
Sasaran jangka pendek :
Klien siap masuk dalam terapi aktivitas
ditemani oleh seorang perawat yang dipercayai dalam 1 minggu.
Sasaran jangka panjang :
Klien dapat secara sukarela meluangkan
waktu bersama klien lainnya dan perawat dalam aktivitas kelompok di unit rawat
inap.
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
1. Ciptakan lingkungan terapeutik :
- bina hubungan saling percaya ((menyapa
klien dengan rama memanggil nama klien, jujur , tepat janji, empati dan
menghargai).
- tunjukkan perawat yang bertanggung
jawab
- tingkatkan kontak klien dengan
lingkungan sosial secara bertahap
2. Perlihatkan penguatan positif pada
klien.
Temani klien untuk memperlihatkan
dukungan selama aktivitas kelompok yang mungkin mnerupakan hal yang sukar
bagi klien.
3. Orientasikan klien pada waktu, tempat
dan orang.
4. Berikan obat anti psikotik sesuai
dengan program terapi.
|
1. Lingkungan fisik dan psikososial yang
terapeutik akan menstimulasi kemmapuan klien terhadap kenyataan.
2. hal ini akan membuat klien merasa
menjado orang yang berguna.
3. kesadran diri yang meningkat dalam
hubungannya dengan lingkungan waktu, tempat dan orang.
4. Obat ini dipakai untuk mengendalikan
psikosis dan mengurangi tanda-tanda agitasi
|
d.
Kurangnya
perawatan diri berhubugan dengan kemauan yang menurun
Batasan kriteria :
Kemauan yang kurang untuk membersihkan
tubuh, defekasi, be3rkemih dan kurang minat dalam berpakaian yang rapi.
Sasaran jangka pendek :
Klien dapat mengatakan keinginan untuk
melakukan kegiatan hidup sehari-hari dalam 1 minggu
Sasaran jangka panjang :
Klien ampu melakukan kegiatan hidup
sehari-hari secara mandiri dan mendemosntrasikan suatu keinginan untuk
melakukannya.
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
1. Dukung klien untuk melakukan kegiatan
hidup sehari-hari sesuai dengan tingkat kemampuan kien.
2. Dukung kemandirina klien, tetapi beri
bantuan kien saat kurang mampu melakukan beberapa kegiatan.
3. Berikan pengakuan dan penghargaan
positif untuk kemampuan mandiri.
4. Perlihatkan secara konkrit, bagaimana
melakukan kegiatan yang menurut kien sulit untuk dilakukaknya.
|
1. Keberhasilan menampilkan kemandirian
dalam melakukan suatu aktivitas akan meningkatkan harga diri.
2. Kenyamanan dan keamanan klien
merupakan priotoritas dalam keperawatan.
3. Penguatan positif akan menignkatakan
harga diri dan mendukung terjadinya pengulangan perilaku yang diharapkan.
4. Karena berlaku pikiran yang konkrit,
penjelasan harus diberikan sesuai tingkat
pengetian yang nyata.
|
e.
Ketidaktahuan
keluarga dan klien tentang efek samping obat antipsikotik berhubungan dengan
kurangnya informasi.
Batasan kriteria :
Adanya pertanyaan kurangnya pengetahuan,
permintaaan untuk mendaptkan informasi dan mengastakan adanya permaslah yang
dialami kien.
Sasaran jangka pendek :
Klien dapat mengatakan efek terhadap tubuh
yang diikuti dengan implemetasi rencana pengjaran.
Sasaran jangka panjang :
Klien dapat mengatan pentingnya
mengetahui dan kerja sama dalam memantau
gejala dan tanda efek samping obat.
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
1. Pantau tanda-tanda vital
2. Tetaplah bersama klien ketika minum
obat antipsikotik
3. Amati klien akan adanya EPS, 4. Pantau
keluaran urine,dan glukosa urine
4. Beritahu klien bahwa dapat terjadi
perubahan yang berkaitandengan fungsi seksual dan menstruasi.
|
1. Hipotensi ortostatik mungikn terjadi
pada pemakain obat antipsikotik, Pemeriksaan tekanan darah dalam posisi
berbaring, dudujk dan berdiri.
2. Beberapa klien mungkin menyembusnyikan
oabt-obat tersebut.
3. distonia akut (spame lidah, wajah,
leher dan punggung), akatisia (gelisah, tidak dapat duduk dengantenag,
mengetuk-negetukan kaki,pseudoparkinsonisme (tremor otot, rifgiditas,
berjalan dengan menyeret kaki) dan diskinesia tardif (mengecapkan bibir,
menjulurkan lidah dan gerakan mengunyah yang konstan).
4. Wanita dapat mempunyai periode
menstruasi yang tidak teratus atau amenorhea dan pria mungkin mengalmi
impotens atau ginekomastik.
|
III. TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian
1. Identitas
Nama :
Sdr. R
Umur :
22 tahun
Jenis kemain : laki-laki
Suku/bangsa : Jawa/indoensia
Agama :
Islam
Alamat :
Jl. K U IV/34 SDR
Pendidikan :
lulusan STM teknik mesin
Pekerjaan :
Swasta
MRS :
8 Agustus 2001
Tanggal pengkajian : 9 Agustus 2001
Sumber data : klien, taman, keluarga (ayah dan ibu klien)
2. Keluhan utama
Ngomel-ngomel
Autoanamnese :
Klien dapat menyebutkan namanya yang
dijawab dengan labt denagn suara yang agak keras, tetapi klien salam dalam
menyebvutkan siap ayah dan ibunya serta teman yang ada disekitarnya.
Heteroanamnese :
- 1 minggu yang lalu klien sakit panas,
disertai bicara ngelantur, gelisah, sulit tidur dan seperti bingung dan
marah-marah.
- Klien sering melihat dan mendengar
sesuatu yang terasa pada tangan yang dipasang infus ada bunyi derap sapi
sebanyak 4 (empat) yang sedang berkejar-kejaran (“tak-tuk-tak tuk”)
- KLIen juga tidak mengenal orang-orang
disekitarnya yang sebelumnya sudah dikenalnya (salah menyebutkan namanya)
- Klien banyak negelamun, tidak bisa tidur
dan juga tidak mau makan
- klien pernah mempunyai keinginan untuk
mencarai ilmu yang bermanfaat bagi dirnya dan orang lain sejak 4 bulan yang
lalu tetapi klien tidak mampu dalam menjalninya dan bertirakat sehingga klien
tergoncang jiwanya, ngomel-ngomel, berbicara keras dan kadang-kdang marah
sehingga harus dibawa ke RS.
3. Faktor predisposisi
- Klien belum pernah mengalami gangguan
jiwa
- tidak ada anggota keluargany ayng
mengalmio gangguan jiwa
- kien pernah menjalani operai usus buntuk
pada bulan desember tahun 2000 di RS kartini Krian.
- Pengalaman klien yang tidak menyenangkan
adalah pada gurunya saat menjalani pembekalaln ilmu sehingga dirinya merasa
tidak kuat lagi.
4. Pemeriksaan fisik
Kesadaran yang meningkat, GCS 456, Refleks
fiologis (+), refleks patologis (-). Tensi 120/70, nadi 80 x/mnt, RR 20 x/mnt,
temp[eratur 37,1 C, BB 44 kg, TB 158 cm., takikardia, febris, BB menurun karena
nafsu makan yang menurun dan tidak mau makan.
5. Psikososial
a. Genogram
|
.
b. Konsep diri
·
Ganbaran diri, klien tidak mengeluh tentang gambaran diri
yang dimilik,(menerima dir sendiri apa adanya).
·
Identitas, klien laki-laki.
·
Peran, kien sebagai anak yang
perlu mengabdi kepada keluarga (ayah dan ibu) dengan bekerja keras membantu di
sawah.
·
Ideal diri, keinginann yang
tidak sesuai dengan kenyataan dan kemampuan yang ada(mencari ilmu untuk menjga
diri dan membantu orang lain tetapi tidak mampu untuk mencpatkannya)
·
Harga diri, tidakmampuan dalam
mencapai tujuan sehingga klien merasa harga dirinya rendah karena kegagalannya.
c. Hubungan sosial
Klien mengnanggap bahwa orang tua merupakan
orang yang paling berarti dan perlu berbakti kepadanya serta berbalas budi.
Berbagai faktor di masyarakat yang membuat kien diterima sebagai anggota
kelompok remaja karenan mempunyai kepandaian dalam bidang olah raga (seperti
badminton, pingpon, sepak bola dan permaina ringan lainya. Klien juga mengikuti
permainan yang sifatnya totoan dan klien pernah kalah sehingga berkeinginan
untuk mencari ilmu utnuk menambah kamatangan diri dan membanti orang lain
tetapi klien tidak mampu sehingga mengalami gangguan intertaksi dan jengkel
pada gurunya.
d. Spiritual
Keyakinan klien terhadapa agama dan
keyakinannya masih kuat. tetapi tidak atau kurang mampu dalam melaksnakan
ibadatnmya sesuai dengan agama dan kepercayaannya.
6. Status mental
a. Penampilan klien tidak rapi dan
tidak mampu utnuk merawat dirinya sendiri, berbaring dan dipasang infus
dextrose 5 % 20 tetes/mnt pada tangan kiri
b. Pembicaraan keras, cepat dan inkoheren.
c. Aktivitas motorik, Perubahan
motorik dapat dimanifestasikan adanya peningkatan kegiatan motorik, gelisah,
agitasi.
d. Alam perasaan
Klien nampak ketakutan dan putus asadan
harga diri rendah.
e. Afek dan emosi.
Keadaan ini menimbulkan perubahan afek yang
digunakan klien untuk melindungi dirinya, karena afek yang telah berubah
memampukan kien mengingkari dampak emosional yang menyakitkan dari lingkungan
eksternal. Respon emosional klien mungkin tampak bizar dan tidak sesuai karena
datang dari kerangka pikir yang telah berubah. Perubahan afek adalah tumpul,
datar, tidak sesuai, berlebihan dan ambivalen.
f. Interaksi selama wawancara
Sikap klien terhadap pemeriksa kurawng
kooperatif, kontak mata kurang serta secara memik menunjukkan sifat bermusuhan.
g. Persepsi
Perubahan persepsi yang paling sering
ditemukan adalah halusinasi penglihatan dan pendengaran.
h. Proses berpikir
Klien yang terganggu pikirannya sukar
berperilaku kohern, tindakannya cenderung berdasarkan penilaian pribadi klien
terhadap realitas yang tidak sesuai dengan penilaian yang umum diterima. Bentuk
pikir non realistik. Penilaian realitas secara pribadi oleh klien merupakan
penilaian subyektif yang dikaitkan dengan orang, benda atau kejadian yang tidak
logis(Pemikiran autistik). Klien tidak menelaah ulang kebenaran realitas. Arus
pikir (Asosiasi longgar) ,dan isi pikir (pemikiran tak memadai)
i. Tingkat kesadaran
Kesadran berkabut.bingung. Disorientasi
waktu, tempat dan orang.
j. Memori
Gangguan daya ingat yang baru saja terjadi
)kejadian pada beberapa jam atau hari yang lampau) dan yang sudah lama
berselang terjadi (kejadian beberapa tahun yang lalu).
k. Tingkat konsentrasi
Klien tidak mampu berkonsentrasi
l. Kemampuan penilaian
Gangguan ringan dalam penilaian atau dan
lambat dalam pengambilan keputusan.
7. Kebutuhan klien sehari-hari
a. Tidur,
klien sukar tidur karena cemas, gelisah, berbaring atau duduk dan gelisah .
Kadang-kadang terbangun tengah malam dan sukar tidur kemabali. Tidurnya terganggu sepanjang malam, sehingga tidak
merasa segar di pagi hari yang ditandai adanya kien tampak nagantuk, mata merah
dikuatkan oleh cerita keluagra (ayah dan ibu klien)
b. Selera makan, klien tidak mempunyai selera makan atau makannya hanya sedikit,
karea putus asa, merasa tidak berharga, aktivitas terbatas sehingga bisa
terjadi penurunan berat badan.
c. Eliminasi
Klien terganggu buang air kecilnya,
kadang-kadang ldibantu dan kadang ngompol dan belum BAB selam 2 hari setelah
MRS.
8. Mekanisme koping
Apabila klien merasa tridak berhasil,
kegagalan maka ia akan menetralisir, mengingkari atau meniadakannya dengan
mengembangkan berbagai pola koping mekanisme. Ketidak mampuan mengatasi secara
konstruktif menyebbkan klien ngomel-ngomel, menarik diri diri dari kelompoknya
dan kadang-kadang marah.
9.
Penatalaksanaan
Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium :
Tanggal 10 Agustus 2001
Hb :
12,5 gr%
LED :
45 mg/L
Leukosit :
5,0 x 109 /dl
Pemeriksaan widal :
S thyphi O :
negatif
S. Typhi H :
negatif
S. Para A :
negatif
S. Para B :
negatif
Perawatan
a.
Pengobatan etiologik harus
sedini mungkin dan di samping faal otak
dibantu agar tidak terjadi kerusakan otak yang menetap.
b.
Peredaran darah harus
diperhatikan (nadi, jantung dan tekanan darah), bila perlu diberi stimulansia.
c.
Pemberian cairan harus cukup,
sebab tidak jarang terjadi dehidrasi. Hati-hati dengan sedativa dan narkotika
(barbiturat, morfin) sebab kadang-kadang tidak menolong, tetapi dapat
menimbulkan efek paradoksal, yaitu klien tidak menjadi tenang, tetapi bertambah
gelisah.
d.
Klien harus dijaga terus,
lebih-lebih bila ia sangat gelisah, sebab berbahaya untuk dirinya sendiri
(jatuh, lari dan loncat keluar dari jendela dan sebagainya) ataupun untuk orang
lain.
e.
Dicoba menenangkan klien dengan
kata-kata (biarpun kesadarannya menurun) atau dengan kompres es. Klien mungkin
lebih tenang bila ia dapat melihat orang atau barang yang ia kenal dari rumah.
Sebaiknya kamar jangan terlalu gelap , klien tidak tahan terlalu diisolasi.
f.
Terdapat gejala psikiatrik bila
sangat mengganggu dapat diberikan neroleptika, terutama yang mempunyai dosis
efektif tinggi.
g.
Pemberian obat Haloperidol 2x1
mg
9. Dampak masalah
a. Individu
·
Pola persepsi dalam
pemeliharaan kesehatan, klien secara tidak sadar bahwa dirinya mengaami
gangguan jiwa
·
Pola nutrisi dan metabolime,
penurunan berat bdan dan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan
·
Pola aktivitas, perilkua yang
hiperkinesia, agitasi dan gelisah
·
Pola eliminasi, bak masih
ngompol (kadang-kadang), 2 hari belum BAB setelah MRS
·
Pola istirahat dan tidur, kien
sulit tidur dan gelisah
·
Pola kognitif, klien tidak bisa
konsentrasi dan lambat berbicara dan mengambil keputusan
·
Pola persepsi diri, halusinasi
dengar dan penglihatan
·
Pola peran, harga diri rendah,
putus asa, kegagalan
·
Pola penyesuai diri, isolasi
diri
·
Pola hubungan sosial, keursakan
interkasi sosial
·
Pola kepercayaan dan agama,
gangguan dalam beribadah
b. Keluarga :
·
klien mungkin mengabaikan atau mendapat
kesulitan dalam melakukan kegiatan sehari-hari seperti kebersihan diri misalnya
tidak mau mandi, tidak mau menyisir atau mengganti pakaian.
·
Kesejahateraan dan konsep diri,
klien merasa kehilangan harga diri, harga diri rendah, merasa tidak berarti,
tidak berguna dan putus asa sehingga klien perlu diisolasi.
·
Kemadirian , klien kehilangan
kemandirian adan hidup ketergantungan pada keluarga atau orang yang merawat
cukup tinggi, sehingga menimbulkan stres fisik.
·
Ketegangan tingkat konflik,
mengganggu satu atau lebih anggota keluarga berperan dengann baik .
10. Pohon Masalah
|
|
||||
Akibat
|
|||||
|
Masalah utama
|
|||||
Penyebab
|
11. Analisa Data
DATA
|
PENYEBAB
|
MASALAH
|
Tanggal 9 Agustus 2001 jam 08.30 wib
Data Subyektif :
-
Keluarga mengatakan bahwa
klien kadang mendengar suara yang membisikan dirinya disetiap ada rangsangan
(berupa suara atau bunyian yang keras) .
-
Keluarga kadang-kadang
memegangi klien dikala sedang gelisah dan tidak enak duduk dan tidur serta
berkeinginan untuk melepaskan jarum infus yang terpasang ditangan kirinya.
-
Klien minta agar tali
pengikatnya dilepas .
Data
Obyektif :
-
Klien ketika didekati perawat
mengatakan bahwa di tempat terpasangnya infus ada 4 pasang sapi yang sedang
berkejar-kejaran (berbunyi tak-tuk-tak-tuk)
-
Terdapat luka lecet pada
daerah dahi (daerah tengah antara dua lais) dan pelipis bekas garukan.
-
Klien nampak gelisah ,
berontak, ngomel-ngomel, tidak enak duduk dan tidak enak tidur, mata merah.
-
Kontak klien saat bertatap
muka kontakmata kurang, bermusuhan, dan salah mengucapkan namanya bila diajak
kenalan (berjabatan dengan tangan yang
kuat) tetapi klien bisa menjawabnya dengan dituntun dan lambat
Data
Subyektif :
- Keluarga mengatakan sudah dua hari ini klien tidak mau makan dan
kalau mau hanya bisa menghabiskan makan dua/tiga suaop nasi yang disajikan.
Data
Obyektif :
-
Berat badan tak terkaji,
konjunctiva tidak pucat dan membran mukosa kering, turgor kulit cukup, dan kelemahan)
-
Terpasang infus Dex 4 % pada
tangan kiri dengan tetesan maintenace (20 tetes/mnt), cairan yang masuh flesh
ke 4.
-
Penampilan tubuh kurus
-
Suhu tubuh sub febris 37 oC,
tensi 120/ 70 mmHg
Data
Subyektif :
-
Keluarga mengatakan klien
kadang-kdang berbicara sendiri dengan nada yang agak keras.
-
Klien gelisah
Data
Obyektif :
-
Kurang rasa percaya pada
orang lain, sukar berinteraksi dengan orang lain, komnuikasi yang tidak
realistik, kontak mata kurang, berpikir tentang sesuatu menurut pikirannya
sendiri, afek emosi yang dangkal.
-
Klien bila diajak kenalan
dengan klien liannya seperti (sdr. JS dan Sdr. S) masih belum bersahabat dan
masih salah dalam mengulang nama yang baru saja dikenalkan
-
Kesadran berkabut, Psikomotor
meningkat, bentuk pikir non realistik, arus (asosiasi longgar) dan isi
(pemikiran tak memadai), Afek emosi yang dangkal
Data
Subyektif :
-
Kleluarga mengatakan sudah
dua belum mandi hanya saja diseka pada bagian yang terbuka (yang tak tertutup
baju.
-
Klien kadang-kadang masih
ngompol dan kadang bilang kalau ingin kencing dengan menggunakan penampung
(urinal)
Data
Obyektif :
-
Kemauan yang menurun,
penampilan kurang rapi dan muka agak lusut.
-
Celana nampak sedkit basah
-
Klien dalam keadaan
terfiksasi sehingga kebutuhan klien dibantu (makan, minum dan kencing serta
mandi dengan diseka).
Data Subyektif :
-
Keluarga belum mengetahui
tentang obat yang diminumkan klien serta efek samping nya.
-
Pendidikan keluarga lulusan
SD
-
Keluarga mengatakan bahwa
klien ingin tidur saja.
-
Dalam makan klien merasa
kurang enak untuk menelan dengan memegang lehernya.
Data
Obyektif :
-
Adanya pertanyaan kurangnya
pengetahuan, permintaaan untuk mendapatkan informasi dan.
-
Nampak mata klien merah dan
sepertinya masih mengantuk
-
Didapatkan adanya rigiditas
(kuduk, punggung)
-
distonia akut (spame lidah,
wajah, leher dan punggung), akatisia (gelisah, tidak dapat duduk dengan
tenang, mengetuk-negetukan kaki, tremor otot, rifgiditas dan diskinesia
tardif (mengecapkan bibir, torticolis dan OCC krisis)
-
Malam jam 22.30 Wib diinjeksi
Delladryl 2 cc dan THD 2x2 mg
|
Gangguan persepsi sensoris (halusinasi
dengan dan penglihatan)
intake yang kurang, status emoosional
yang meningkat.
sistem pendukung yang tidak adequat,
halusinasi
Kemauan yang menurun
kurangnya informasi
|
Kekerasan/penyiksaan (mulakai diri sendiri, orang lain dan
sekitarnya)
Nutrisi
Interaksi
sosial (isolasi sosial)
Perawatan
diri-sendiri
Pengetahuan klien dan keluarga
|
11. Diagnosa Keperawatan
a.
Risiko terhadap penyiksaan pada
diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan berespon pada
sensori-perseptual (halusinasi dengan dan lihat).
b.
Risiko terjadi perubahan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang,
status emoosional yang meningkat.
c.
Kurangnya interaksi sosial
(isolasi sosial) berhubungan dengan sistem penbdukung yang tidak adequat.
d.
Kurangnya perawatan diri
berhubugan dengan kemauan yang menurun
e.
Ketidaktahuan keluarga dan
klien tentang efek samping obat antipsikotik berhubungan dengan kurangnya
informasi.
B. Rencana Tindakan
a. Risiko terhadap penyiksaan pada
diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan berespon pada
gangguan sensori-perseptual (halusinasi dengar dan lihat).
Batasan kriteria :
Sasaran jangka pendek :
Dalam 2 minggu klien dapat mengenal
tanda-tanda peningkatan kegelisahan dan melaprkan pada perwat agasr dapat
diberikan intervensi sesuai kebutuhan.
Sasaran jangka panjang :
Klien tidak akan membahayakan diri, orang
lain dan lingkungan selama di rumah sakit.
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
1. Pertahankan agar lingkungan klien pada
tingkat stimulaus yang rendah (penyinaran rendah, sedikit orang, dekorasi
yang sederhana dan tingakat kebisingan yang rendah)
2. Ciptakan lingkungan psikososial :
·
sikap perawat yang
bersahabat, penuh perhatian, lembuh dan hangat)
·
Bina hubungan saling percaya
(menyapa klien dengan rama memanggil nama klien, jujur , tepat janji, empati
dan menghargai.
·
Tunjukkan perwat yang bertanggung jawab
3. Observasi secara ketat perilaku klien
(setiap 15 menit)
4. Kembangkan orientasi kenyataan :
·
Bantu kien untuk mengenal
persepsinya
·
Beri umpan balik tentang
perilaku klien tanpa menyokong atau membantah kondoisinya
·
Beri kesempatan untuk
mengungkapkan persepsi an daya orientasi
5. Lindungi klien dan keluarga dari
bahaya halusinasi :
· Kajiu halusinasi klien
· Lakukan tindakan pengawasan ketat, upayakan tidak melakukan
pengikatan.
6. Tingkatkan peran serta keluarga pada
tiap tahap perawatan dan jelaskan prinsip-prinsip tindakan pada halusinasi.
7. Berikan obat-obatan antipsikotik
sesuai dengan program terapi Haloporidol (2 x 2 mg) dan (pantau keefektifan
dan efek samping obat).
|
1. Tingkat ansietas atau gelisah akan
meningkat dalam lingkungan yang penuh stimulus.
2. Lingkungan psikososial yang terapeutik
akan menstimulasi kemampuan perasaan kenyataan.
3. Observasi ketat merupakan hal yang
penting, karena dengan demikian intervensi yang tepat dapat diberikan segera
dan untuk selalu memastikan bahwa kien berada dalam keadaan aman
4. Klien perlu dikembangkan kemampuannya
untuk menilai realita secara adequat agar klien dapat beradaptasi dengan
lingkungan.Klien yang berada dalam keadaan gelisah, bingung, klien tidak
menggunakan benda-benda tersebut untuk membahayakan diri sendiri maupun orang
lain.
5. Klien halusinasi pada faase berat
tidak dapat mengontrol perilakunya.
Lingkungan yang aman dan pengawasan yang tepat dapat mencegah cedera.
6. Klien yang sudah dapat mengontrol
halusinasinya perlu sokongan keluarga untuk mempertahnkannya.
7. Obat neroleptika ini dipakai untuk
mengendalikan psikosis dan mengurangi tanda-tanda agitasi.
|
b. Perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang, status emosional yang
meningkat.
Batasan kriteria :
Penurunan berat badan, konjunctiva dan
membran mukosa pucat, turgor kulit jelek, ketidakseimbangan elktrolit dan
kelemahan)
Sasaran jangka pendek :
Klien dapat mencapai pertambahan 0,9 kg t
hari kemudian
Hasil laboratorium elektrolit sserum klien
akan kembali dalam batas normal dalam 1 minggu
Sasaran jangka panjang :
Klien tidak memperlihatkan tanda-tanda
/gejala malnutrisi saat pulang.
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
1. Monitor masukan, haluaran dan jumlah
kalori sesuai kebutuhan.
2. timbang berat badan setiap pagi
sebelum bangun
3. Jelaskan pentingnya nutrisi yang cukup
bagi kesehatan dan proses penyembuhan.
4. Kolaborasi
·
Dengan ahli gizi untuk
menyediakan makanan dalam porsi yang cukup sesuai dengan kebutuhan
·
Pemberian cairan
perparenteral (IV-line)
·
Pantau hasil laboraotirum
(serum elektrolit)
5. Sertakan keluarga dalam memnuhi
kebutuhan sehari-hari (makan dan kebutuhan fisiologis lainnya)
|
1. Informasi ini penting untuk membuat
pengkajian nutrisi yang akurat dan mempertahankan keamanan klien.
2. Kehilangan berat badan merupakan
informasi penting untuk mengethui perkembangan status nutrisi klien.
Klien mungkin tidak memiliki pengetahuan
yang cukup atau akurat berkenaan dengan kontribusi nutrisi yang baik untuk
kesehatan.
4. Kolaborasi :
· Klien lebih suka menghabiskan makan yang disukai oleh klien.
· Cairan infus diberikan pada klien yang tidak, kurang dalam
mengintake makanan.
· Serrum elektrolit yang normal menunjukkan adanya homestasis dalam
tubuh.
5. Perawat bersama keluarga harus
memperhatikan pemenuhan kebutuhan secara adequat.
|
c. Kurangnya interaksi sosial
(isolasi sosial) berhubungan dengan sistem pendukung yang tidak adequat.
Batasan kriteria :
Kurang rasa percaya pada orang lain, sukar
berinteraksi dengan orang lain, komnuikasi yang tidak realistik, kontak mata
kurang, berpikir tentang sesuatu menurut pikirannya sendiri, afek emosi yang
dangkal.
Sasaran jangka pendek :
Klien siap masuk dalam terapi aktivitas
ditemani oleh seorang perawat yang dipercayai dalam 1 minggu.
Sasaran jangka panjang :
Klien dapat secara sukarela meluangkan
waktu bersama klien lainnya dan perawat dalam aktivitas kelompok di unit rawat
inap.
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
1. Ciptakan lingkungan terapeutik :
- bina hubungan saling percaya ((menyapa
klien dengan rama memanggil nama klien, jujur , tepat janji, empati dan
menghargai).
- tunjukkan perawat yang bertanggung
jawab
- tingkatkan kontak klien dengan
lingkungan sosial secara bertahap
2. Perlihatkan penguatan positif pada
klien.
Temani klien untuk memperlihatkan
dukungan selama aktivitas kelompok yang mungkin mnerupakan hal yang sukar
bagi klien.
3. Orientasikan klien pada waktu, tempat
dan orang.
4. Berikan obat anti psikotik sesuai
dengan program terapi (Haloperidol 2x 2 mg)
|
1. Lingkungan fisik dan psikososial yang
terapeutik akan menstimulasi kemmapuan klien terhadap kenyataan.
2. hal ini akan membuat klien merasa
menjado orang yang berguna.
3. kesadran diri yang meningkat dalam
hubungannya dengan lingkungan waktu, tempat dan orang.
4. Obat ini dipakai untuk mengendalikan
psikosis dan mengurangi tanda-tanda agitasi
|
d. Kurangnya perawatan diri
berhubugan dengan kemauan yang menurun
Batasan kriteria :
Kemauan yang kurang untuk membersihkan
tubuh, defekasi, be3rkemih dan kurang minat dalam berpakaian yang rapi.
Sasaran jangka pendek :
Klien dapat mengatakan keinginan untuk
melakukan kegiatan hidup sehari-hari dalam 1 minggu
Sasaran jangka panjang :
Klien mampu melakukan kegiatan hidup
sehari-hari secara mandiri dan mendemosntrasikan suatu keinginan untuk
melakukannya.
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
1. Dukung klien untuk melakukan kegiatan
hidup sehari-hari sesuai dengan tingkat kemampuan kien.
2. Dukung kemandirina klien, tetapi beri
bantuan kien saat kurang mampu melakukan beberapa kegiatan.
3. Berikan pengakuan dan penghargaan
positif untuk kemampuan mandiri.
4. Perlihatkan secara konkrit, bagaimana
melakukan kegiatan yang menurut kien sulit untuk dilakukaknya.
|
1. Keberhasilan menampilkan kemandirian
dalam melakukan suatu aktivitas akan meningkatkan harga diri.
2. Kenyamanan dan keamanan klien
merupakan priotoritas dalam keperawatan.
3. Penguatan positif akan menignkatakan
harga diri dan mendukung terjadinya pengulangan perilaku yang diharapkan.
4. Karena berlaku pikiran yang konkrit,
penjelasan harus diberikan sesuai tingkat
pengetian yang nyata.
|
e. Ketidaktahuan keluarga dan klien
tentang efek samping obat antipsikotik berhubungan dengan kurangnya informasi.
Batasan kriteria :
Adanya pertanyaan kurangnya pengetahuan,
permintaaan untuk mendaptkan informasi dan mengastakan adanya permaslah yang
dialami kien.
Sasaran jangka pendek :
Klien dapat mengatakan efek terhadap tubuh
yang diikuti dengan implemetasi rencana pengjaran.
Sasaran jangka panjang :
Klien dapat mengatan pentingnya
mengetahui dan kerja sama dalam memantau
gejala dan tanda efek samping obat.
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
1. Pantau tanda-tanda vital
2. Tetaplah bersama klien ketika minum
obat antipsikotik
3. Amati klien akan adanya EPS,
4. Beritahu klien bahwa dapat terjadi
perubahan yang berkaitandengan fungsi seksual dan menstruasi.
|
1. Hipotensi ortostatik mungikn terjadi
pada pemakain obat antipsikotik, Pemeriksaan tekanan darah dalam posisi
berbaring, dudujk dan berdiri.
2. Beberapa klien mungkin menyembusnyikan
oabt-obat tersebut.
3. distonia akut (spame lidah, wajah,
leher dan punggung), akatisia (gelisah, tidak dapat duduk dengan tenang,
mengetuk-negetukan kaki,pseudoparkinsonisme (tremor otot, rifgiditas,
berjalan dengan menyeret kaki) dan diskinesia tardif (mengecapkan bibir,
menjulurkan lidah dan gerakan mengunyah yang konstan).
4. Wanita dapat mempunyai periode
menstruasi yang tidak teratus atau amenorhea dan pria mungkin mengalmi
impotens atau ginekomastik.
|
C. IMPLEMENTASI (PELAKSANAAN)
DIAGNOSA
|
JAM
|
IMPLEMENTASI
|
EVALUASI
|
Tanggal
09-08-2001
a. Risiko ter-hadap pe-nyiksaan pa-da
diri sendiri, orang lain dan ling-kungan ber-hubungan dengan be-respon pada
sensori-per-septual (ha-lusinasi de-ngan dan lihat).
b. Risiko ter-jadi peru-bahan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh berhu-bungan de-ngan intake yang kurang, status
emo-sional yang meningkat.
c. Kurangnya interaksi so-sial (isolasi
sosial) ber-hubungan de-ngan sistem penbdukung yang tidak adequat.
d. Kurangnya perawatan diri berhubugan
dengan ke-mauan yang menurun
d. Ketidak-tahuan ke-luarga dan klien
tentang efek samping obat anti-psikotik ber--hubungan de-ngan kurangnya
informasi.
|
08.00
08.00
09.00
10.30
08.00
10.00
07.30
07.00
07.00
07.30
08.00
08.00
07.00
08.30
10.00
07.00
07.30
07.30
07.30
07.30
07.30
08.00
07.30
07.30
08.00
|
1. Memperrtahankan agar lingkungan klien
pada tingkat stimulus yang rendah (penyinaran rendah, sedikit orang, dekorasi
yang sederhana dan tingakat kebisingan yang rendah)
2. Menciptakan lingkungan psikososial :
·
sikap perawat yang
bersahabat, penuh perhatian, lembuh dan hangat)
·
Membina hubungan saling
percaya (menyapa klien dengan cara memanggil nama klien (berkenalan), jujur ,
tepat janji, empati dan menghargai.
·
Menunjukkan perawat yang bertanggung jawab
3. Mengobservasi secara ketat perilaku
dan peningkatan psikomotor klien (setiap 15 menit)
4. Mengembangkan orientasi klien pada
kenyataan :
·
Membantu kien untuk mengenal
persepsinya
·
Memberi umpan balik tentang
perilaku klien tanpa menyokong atau membantah kondisinya
·
Memberi kesempatan untuk
mengungkapkan persepsi dan daya orientasi (Waktu, tempat dan orang)
5. Melindungi klien dan keluarga dari
bahaya halusinasi :
· Mengkaji halusinasi klien
· Melakukan tindakan
pengawasan ketat,mengupayakan dengan melakukan pengikatan.
6. Meningkatkan peran serta keluarga pada
tiap tahap perawatan dan jelaskan prinsip-prinsip tindakan pada halusinasi.
7. Melakukan kolaborasi dengan tim medis
dalam memberikan obat-obatan
antipsikotik (neroleptika) sesuai dengan program terapi yaitu Haloporidol (2
x 1 mg) dan memantau keefektifan dan efek samping obat.
1. Memonitor jumlah kalori yang masuk
sesuai kebutuhan.
2. Memberikan penjelasan kepada klien dan
keluarga pentingnya nutrisi yang
cukup bagi kesehatan dan proses penyembuhan.
4. Melakukan Kolaborasi
·
Dengan ahli gizi untuk
menyediakan makanan dalam porsi yang cukup sesuai dengan kebutuhan
·
Memantau tetesa infus Dex 5%
dan tanda-tanda pelebits.
5. Mengikutsertakan keluarga dalam
memnuhi kebutuhan sehari-hari (makan,dan
minum )
1. Menciptakan lingkungan terapeutik :
- Membina hubungan saling percaya
((menyapa klien dengan rama memanggil nama klien, jujur , tepat janji, empati
dan menghargai).
- Menunjukkan perawat yang bertanggung
jawab
- Meningkatkan kontak klien dengan
lingkungan sosial secara bertahap
2. Memperlihatkan penguatan positif pada
klien.
Temani klien untuk memperlihatkan
dukungan selama aktivitas kelompok yang mungkin mnerupakan hal yang sukar
bagi klien.
3. Mengorientasikan klien pada waktu,
tempat dan orang.
4. Memberikan obat anti psikotik sesuai
dengan program terapi (Haloperidol 2x 1 mg) dan memastikan
1. Memberi dukungan pada klien untuk
melakukan kegiatan hidup sehari-hari sesuai dengan tingkat kemampuan kien.
2. Memberi dukungan atas kemandirian klien, tetapi beri bantuan kien
saat kurang mampu melakukan beberapa kegiatan.
3. Memberikan pengakuan dan penghargaan
positif untuk kemampuan mandiri
4. Memperlihatkan secara konkrit,
bagaimana melakukan kegiatan yang menurut kien sulit untuk dilakukaknya.
1. Memantau tanda-tanda vital tensi,
nadi, suhi dan respirasi rate
2. Menetapkan bersama klien ketika minum
obat antipsikotik
3. Mengamat klien akan adanya EPS, distonia akut (spame
lidah, wajah, leher dan punggung), akatisia (gelisah, tidak dapat duduk
dengan tenang, mengetuk-negetukan kaki,pseudoparkinsonisme (tremor otot,
rifgiditas, berjalan dengan menyeret kaki) dan diskinesia tardif (mengecapkan
bibir, menjulurkan lidah dan gerakan mengunyah yang konstan).
4. Memberi penjelasan pada klien dan
keluarga tentang berbagai kemungkinan yang terjadi efek samping obat yang
diminum terhadap gangguan fisik atau psikologisnya.
5. Memberi tahu salah satu contoh yang
dikeluhkan kien (seperti kaku serasa seluruh tubuh, buat makan susah,
mengantuk, gemetar dan lainnya.
|
Jam 12.00 wib
S
-
Keluarga mengatakan bahwa
klien kadang masih mendengar suara yang membisikan dirinya disetiap ada
rangsangan (berupa suara atau bunyian yang keras) .
-
Keluarga kadang-kadang masih
memegangi klien dikala sedang gelisah dan tidak enak duduk dan tidur serta
berkeinginan untuk melepaskan jarum infus yang terpasang ditangan kirinya.
-
Klien minta agar tali
pengikatnya dilepas .
O
-
Klien masih nampak gelisah ,
berontak, ngomel-ngomel, tidak enak duduk dan tidak enak tidur, mata merah.
Dan minta agar talipengikatnya dibuka
-
Kontak klien saat bertatap
muka kontakmata kurang, bermusuhan, dan salah mengucapkan namanya bila diajak
kenalan (berjabatan dengan tangan yang
kuat) tetapi klien bisa menjawabnya dengan dituntun dan lambat
A
Masalah belum teratasi
P
Lanjutkan
Jam 12.00 WIB
S
- Keluarga mengatakan sudah mau makan dan menghabiskan makanan yang
disajikan dari rumah sakit suaop nasi yang disajikan.
- Klien disuapi makanannya oleh bapaknya dalam kondisi kai dan
tangannya diikat.
- Ketika ditanya klien merasa kenyang
O
-
Porsi makanan yang disediakna
RS dihabiskan
-
trpasang infus Dex 4 % pada
tangan kiri dengan tetesan maintenace (20 tetes/mnt), cairan yang masuh flesh
ke 4.
-
Tidak nampak adanya kelemahan
yang bermakna
-
Suhu tubuh sub febris 36,5,
tensi 120/ 70 mmHg
A
MaSalah teratasi
P
Diobservasi lebih lanjut
Jam 12.00 WIB :
S
-
Keluarga mengatakan klien
kadang-kdang berbicara sendiri dengan nada yang agak keras.
-
Klien masih gelisah
O
-
Klien masih sukar
berinteraksi dengan orang lain, komnuikasi yang tidak realistik, kontak mata
kurang, berpikir tentang sesuatu menurut pikirannya sendiri, afek emosi yang
dangkal.
-
Psikomotor meningkat, bentuk
pikir non realistik, arus (asosiasi longgar) dan isi (pemikiran tak memadai)
-
Klien masih lupa dan daya
ingatnya berkurang
A
Masalah belum teratasi
P
Dilanjutkan
Jam 12.00 wib
S
-
Kleluarga mengatakan untuk
siang masih belum mandi hanya sebatas diseka saja.
-
Kebutuhan untuk kencing
dibantu
O
-
Kemauan yang menurun,
penampilan kurang rapi dan muka agak lusut.
-
Klien dalam keadaan
terfiksasi sehingga kebutuhan klien dibantu (makan, minum dan kencing serta
mandi dengan diseka).
A
Masalah belum teratasi
P
Dilanjutkan
S :
-
Keluarga dapat menyebutkan
maksud dan tujuan dari obat yang dimnumkan
-
Keluarga mengetahui bahwa
keluhan yang dirasakan klien adalah salah satu efeks samping obat.
O
-
Keluarga dapat menjawab
ketika dilakukan evaluasi terminasi sementara
-
Suhu 36,7 C, nadi 88 x/mnt
dan tensi 120/80 mmHg
A
Masalah teratasi
|
CATATAN PERKEMBANGAN
DIAGNOSA
|
CATATAN
PERKEMBANGAN
|
Tanggal 10-08-2001
Jam 07.30
Dx. a
Dx. c
Dx. d (jam 10.30 wib)
Tanggal 13-08-2001
Jam 07.30
Dx. a
Dx. c
Tanggal 17 -08-2001
Jam 08.30 wib
Tanggal 20-08-2001
Jam 07.15 wib
|
S
-
Keluarga mengatakan bahwa
gelisahnya sudah mulai menurun
-
Klien meminta agar tali
pengikatnya dilepas
O
-
klien masih terfiksasi
-
Ditempat infus terjadi
plebtis dan akhirnya infus dilepas
-
Kontak verbal mulai membaik,
masih irealistik, kesadran berkabut
-
Kesadran berkabut, Proses
berpikir non realistik, asosiasi longgar dan pemikiran tidak memadai
-
Nada dan frekuensi ngomelnya
berkurang, gelisah, afek emosi dangkal
-
Halusinasi
A
-
Masalah belum teratasi
P
Lanjutkan
S
-
Keluarga mengatakan klien
masih belum bisa diajak bicara dengan tepat
-
Klien tidak mau bicara kalau
tidak ditanyakan lebih dahulu
O
-
Kontak verbal mulai membaik,
masih irealistik, kesadran berkabut
-
Proses berpikir non
realistik, asosiasi longga dan pemikiran tidak memadai
-
Komunikasi pasif, dan kurang
bersahabat
A
Masalah belum
teratasi
P
Lanjutkan
S
- Setelah infus dilepas dan tali pengikatnya dilepas (jam 10.00)
klien dimandikan oleh keluarganya di kamar mandi
- Klien dapat mandi dan keramas dengan menggunakan sabun dan sampoe
O
- Klien nampak segar
- Klien duduk di luar ruangannya bersama ayah dan ibunya
A
Masalah
teratasi
S
-
Keluarga mengatakan bahwa
gelisahnya sudah mulai menurun
-
Klien bisa tidur pada malam
harinya
O
-
Kontak verbal mulai membaik,
sudah mulai realistik, kesadran membaik
-
Proses berpikir kohern
-
Pembicaraan lambat dan daya
ingat lambat
A
-
Masalah teratasi
S
- Keluarga mengatakan klien sudah bisa bicara tentang apa yang diminta dan cerita
tentang keluhan yang dirasakan seperti pusing
O
- Kontak verbal mulai membaik, realistik, kesadran berkabut
- Klien dapat menjawab apa yang tanyakan padanya
- Proses berpikir non realistik, asosiasi longga dan pemikiran tidak
memadai
- Komunikasi pasif, dan kurang bersahabat, afek emosi dangkal
A
Masalah belum
teratasi
P
Lanjutkan
- Mensosialisakan klien pada terapi bermain dan klien lainnya
I
- Melanjutkan rencana keperwatan
- Mensososialisasikan klien pada klien lainnya
- Mengajak klien pada temapt terapi bermain (olah raga)
E
- klien dapat bermain bulu tangkis dan tenis meja
- komunikasi dan sosialisasi masih pasif
S
- klien merasa ngantuk
- klien mau ketika diajak berolah raga dan mengikuti lomba
O
- Komunikasi masih pasif
- Psikomotor membaik
A
Masalah tetasi
sebagian
P
Menikut
sertakan klien pada tepai bermain dengan sistem kompetisi
I
Melaksnakan
planning
Menguatkan dan
memberi reinforcement terhadap kemampuan klien yang t elah dilakukan
E
- klien dapat mengikuti peraturan permainan yang telah dijelaskan
- klien dapat menyelsaikan permainan lomba bendera, klereng dan
menggambar
- Setelah dievaluasi klien mendapat juara satu dalam lomba bendera
- Klien merasa senang ketika mendapatkan hadiah
S
- Klien mengajak samalam pada saya dan mengatakan bahwa hari ini
boleh pulang
- Klien mengatakan “Bapak saya sekarang sudah boleh pulang)
O
- Kien tampat cerah, rapi dan bersahaja
- Komunikasi dua arah baik
A.
Masalah
teratasi
Bimbingan dan
penyuluhan :
- Melakukan skedul aktivitas paling tidak seperti yang direncanakn
di rumah sakit
- Jangan lupa minum obat sesuai dengan anjuran
- Menganjurkan kontrol pada waktunya atau sewaktuwaktu bila
dibutuhkan
|
D. EVALUASI
Masalah yang muncul selama perawatan di
rumah sakit dapat dilakukan tindakan
perawatan dan kolaboratif sehingga tujuan dapat dicapai dan teratasi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar