ASKEP HARGA DIRI
RENDAH (HDR)
![]() |
Disusun oleh :
Karsam eko wijaya kusuma
STIKes KHARISMA KARAWANG
2015
BAB I
KONSEP DASAR
Pada bab ini akan dibahas tentang konsep dasar harga
diri rendah yang meliputi: pengertian, rentang respon konsep diri, etiologi,
manifestasi klinis, mekanisme koping, masalah keperawatan, pohon masalah,
diagnosa keperawatan, dan fokus
intervensi.
A. Pengertian
1. Konsep diri
Menurut Rogers (2004) konsep diri adalah kesadaran batin
yang tetap, mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku
dari yang bukan aku. Konsep diri terbagi menjadi 2 yaitu konsep diri real dan konsep
diri ideal (Rogers, 2004). Untuk menunjukkan apakah kedua konsep diri tersebut
sesuai atau tidak, Rogers mengenalkan 2 konsep lagi, yaitu Incongruence dan
Congruence. Incongruence adalah ketidakcocokan antara self yang dirasakan dalam
pengalaman aktual disertai pertentangan dan kekacauan batin. Sedangkan
Congruence berarti situasi di mana pengalaman diri diungkapkan dengan seksama
dalam sebuah konsep diri yang utuh, integral, dan sejati (Rogers, 2004).
Komponen-komponen dalam konsep diri terdiri atas beberapa hal diantaranya adalah sebagai
berikut (Rogers, 2004):
a.
Gambaran diri.
Kumpulan dari sikap individu
yang disadari dan tidak disadari terhadap tubuhnya. Termasuk persepsi masa
lalu, dan sekarang, serta perasaan tentang ukuran, fungsi, penampilan, dan
potensi. Yang secara berkesinambungan dimodifikasi dengan persepsi dan
pengalaman baru. Hal-hal yang terkait dengan gambaran diri sebagai berikut:
a.
Fokus
individu terhadap fisik lebih menonjol pada usia remaja.
b.
Bentuk
tubuh, tinggi badan, berat badan, dan tanda-tanda pubertas.
c.
Cara individu memandang diri
berdampak penting terhadap aspek psikologis.
d.
Gambaran
yang realistik terhadap menerima dan menyukai bagian tubuh, akan memberi rasa
aman dalam menghindari kecemasan dan meningkatkan harga diri.
e.
Individu
yang stabil, realistik, dan konsisten terhadap gambaran dirinya dapat mendorong
sukses dalam kehidupan.
b.
Ideal diri.
Persepsi individu tentang perilakunya, disesuaikan
dengan standart pribadi yang terkait dengan cita-cita, harapan, dan keinginan
serta nilai personal tertentu yang ingin dicapai. Hal-hal yang terkait dengan
ideal diri:
a.
Perkembangan
awal terjadi pada masa kanak-kanak.
b.
Terbentuknya masa remaja
melalui proses identifikasi terhadap orang tua, guru, dan teman.
c.
Dipengaruhi
oleh orang-orang yang dipandang penting dalam memberi tuntutan dan harapan.
d.
Mewujudkan
cita-cita dan harapan pribadi berdasarkan norma keluarga dan sosial.
c.
Harga diri.
Penilaian individu tentang
nilai personal yang diperoleh dengan menganalisa seberapa baik perilaku
seseorang sesuai dengan ideal diri. Harga diri yang tinggi adalah perasaan yang
berakar dalam penerimaan diri sediri tanpa syarat, walaupun melakukan
kesalahan, kekalahan, dan kegagalan, tetap merasa sebagai seorang yang penting
dan berharga.
d.
Penampilan peran.
Serangkaian pola perilaku yang
diharapkan oleh lingkungan sosial berhubungan dengan fungsi individu di
berbagai kelompok sosial. Peran yang ditetapkan adalah peran dimana seseorang
tidak mempunyai pilihan untuk menentukan perannya sendiri. Peran yang diterima
adalah peran yang terpilih atau dipilih individu itu sendiri.
e.
Identitas diri.
Pengorganisasian prinsip dari kepribadian yang
bertanggung jawab terhadap kesatuan, kesinambungan, konsistensi, dan keunikan
individu. Mempunyai konotasi otonomi dan meliputi persepsi seksualitas
seseorang. Pembentukan kualitas dimulai pada masa bayi dan terus berlangsung
sepanjang kehidupan tapi merupakan tugas utama pada masa remaja.
2. Harga diri rendah.
“Harga diri rendah adalah suatu keadaan dimana evaluasi
diri dan perasaan terhadap diri sendiri atau kemampuan diri yang negatif, yang
secara langsung atau tidak langsung diekspresikan” (Townsend, 1995 hal 74). “Harga
diri adalah penilaian diri terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa
seberapa jauh perilaku memenuhi ideal diri” (Sunaryo, 2004 hal 32).
Jika individu selalu sukses maka cenderung harga diri
tinggi tetapi jika individu sering gagal maka cenderung harga diri rendah
(Direktorat Kesehatan Jiwa, 1995). Didalam diri seseorang besar kemungkinan
terjadi gangguan harga diri apabila aspek utama harga diri yaitu dicintai,
disayangi, dikasihi orang lain, dan mendapat penghargaan dari orang lain belum
terpenuhi (Townsend, 1998). Hal ini dapat di gambarkan sebagai perasaan yang
negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri, harga diri,
merasa gagal mencapai keinginan, tidak berdaya, tidak ada harapan dan putus asa (Keliat, 1999).
B. Rentang respon konsep diri
|
|
|
|
|
Gambar 1: rentang konsep diri (Stuart & Sundeen,
1998 hal 230).
1. Aktualisasi diri: pengungkapan
perasaan/kepuasan dari konsep diri positif.
2. Konsep diri positif: dapat menerima
kondisi dirinya sesuai dengan yang diharapkannya dan sesuai dengan kenyataan.
3. Harga diri rendah: perasaan negatif
terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diit, dan merasa gagal mencapai
keinginan.
4. Kerancuan identitas: ketidakmampuan
individu mengintegrasikan aspek psikologis pada masa dewasa, sifat kepribadian
yang bertentangan, dan perasaan hampa.
5. Depersonalisasi: merasa asing terhadap
dirinya sendiri dan kehilangan identitas.
C. Etiologi
Menurut Keliat (1995) harga
diri rendah dapat terjadi secara:
1.
Situasional, yaitu
terjadi trauma yang tiba‑tiba, misal harus operasi, kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, putus hubugan kerja
dll. Pada pasien yang dirawat dapat terjadi harga diri rendah karena privasi
yang kurang diperhatikan: pemeriksaan fisik yang sembarangan, harapan akan struktur, bentuk, dan fungsi tubuh
yang tidak tercapai karena di rawat/sakit/penyakit, perlakuan petugas yang
tidak menghargai.
2.
Kronik, yaitu perasaan
negatif terhadap diri telah berlangsung lama, yaitu sebelum sakit/dirawat.
Klien mempunyai cara fakir yang negatif, kejadian sakit, dan dirawat akan
menambah persepsi negatif terhadap dirinya.
Sedangkan menurut Stuart dan
Sundeen (1998) penyebab harga diri rendah dibedakan menjadi dua yaitu faktor
predisposisi dan stressor presipitasi.
1.
Faktor Predisposisi
Beberapa faktor predisposisi
dapat menunjang terjadinya perubahan dalam konsep diri seseorang. Faktor ini dapat dibedakan sebagai berikut:
a.
Perkembangan
Berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan dapat
mempengaruhi gangguan konsep diri, misal: krisis psikososial pada masa perkembangan,
harapan orang yang penting dalam hidupnya, peran sosial yang diharapkan, aspek
budaya yang mempengaruhi, keadaan kesehatan fisik, dan pola penyelesaian
masalah yang dimiliki.
b. Faktor yang mempegaruhi harga diri.
Pengalaman masa kanak-kanak
merupakan faktor kontribusi pada gangguan konsep diri diantaranya: anak sangat
peka terhadap perlakuan dan respon orang tua yang kasar, membenci, tidak
menerima atas usaha anak, ketidak pastian diri, dan anak yang tidak menerima
kasih sayang maka anak tersebut akan gagal mencintai dirinya dan menggapai
cinta orang lain.
c. Faktor yang mempengaruhi penampilan peran.
Peran yang sesuai dengan jenis
kelamin sejak dulu telah diterima masyarakat bahwa wanita kurang mampu, kurang
mandiri, kurang obyektif, dan kurang rasional dibandingkan dengan pria
sedangkan pria dianggap kurang sensitive, kurang hangat, dan kurang ekspresif
dibandingkan dengan wanita.
d. Faktor yang mempengaruhi identitas
personal.
Orang tua selalu curiga pada
anak sehingga anak akan ragu apakah yang ia pilih tepat, jika tidak sesuai
dengan keinginan orang tua maka akan timbul rasa bersalah. Kontrol orang tua
pada anak remaja akan menimbulkan perasaan benci anak pada orang tua. Anak
remaja ingin diterima, dibutuhkan, diinginkan, dan dimiliki oleh kelompoknya.
2.
Faktor presipitasi
Gangguan konsep diri dapat
disebabkan dari luar dan dari dalam. Dimana situasi-situasi yang dihadapi
individu tidak mampu menyesuaikan stressor yang mempengaruhi gambaran diri
seperti:
a.
Trauma seperti
penganiayaan seksual dan psikologis atau menyaksikan kejadian yang megancam.
b.
Ketegangan peran
beruhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkan dimana individu mengalami
frustrasi. Ada tiga jenis
transisi peran:
b.1. Transisi peran perkembangan adalah perubahan normatif yang berkaitan
dengan pertumbuhan. Perubahan ini termasuk tahap perkembangan dalam kehidupan
individu atau keluarga dan norma-norma budaya atau nilai-nilai tekanan untuk
peyesuaian diri.
b.2. Transisi peran situasi terjadi dengan bertambah atau
berkurangnya anggota keluarga melalui kelahiran atau kematian.
b.3. Transisi peran sehat sakit
sebagai akibat pergeseran dari keadaan sehat menuju keadaan sakit. Transisi ini
mungkin dicetuskan oleh kehilangan bagian tubuh, perubahan ukuran, bentuk,
penampilan, dan fungsi tubuh, perubahan fisik, prosedur medis, dan keperawatan.
D. Manifestasi klinis
Menurut Stuart dan Sundeen
(1998), karakteristik perilaku yang ditunjukkan pada klien dengan harga diri
rendah berupa mengkritik diri sendiri atau orang lain, penurunan produktivitas,
destruktif yang diarahkan pada orang lain, gangguan dalam berhubungan, rasa
diri penting yang berlebihan, perasaan tidak mampu, rasa bersalah, mudah
tersinggung atau marah yang berlebihan, perasaan negatif terhadap tubuhnya
sendiri, ketegangan peran yang dirasakan, pandangan hidup yang pesimis, keluhan
fisik, pandangan hidup yang bertentangan, penolakan terhadap kemampuan
personal, destruktif terhadap diri sendiri, pengurangan diri, menarik diri
secara sosial, penyalahgunaan zat, menarik diri dari realita, dan khawatir.
E. Mekanisme koping
Struart dan Sundeen (1998)
berpendapat bahwa mekanisme koping termasuk pertahanan koping jangka pendek dan
jangka panjang serta penggunaan mekanisme pertahanan ego untuk melindungi diri
sendiri dalam menghadapi persepsi diri yang menyakitkan. Pertahanan jangka
panjang, jangka pendek, dan ego menurut Stuart dan Sundeen (1998) adalah
sebagai berikut:
Pertahanan jangka pendek meliputi:
a. Aktivitas yang dapat memberikan pelarian
sementara dari krisis identitas, misal: konser musik, bekerja keras, menonton
televisi secara obsesif.
b. Aktivitas yang dapat memberikan identitas
pengganti sementara, misal: ikut serta dalam aktivitas sosial, agama, klub
politik, kelompok atau geng.
c. Aktivitas yang secara sementara menguatkan
perasaan diri, misal: olah raga yang kompetitif, pencapaian akademik, kontes
untuk mendapatkan popularitas.
d. Aktivitas yang mewakili upaya jangka
pendek untuk membuat masalah identitas menjadi kurang berarti dalam kehidupan
individu, misal: penyalahgunaan obat.
Pertahanan jangka panjang
termasuk sebagai berikut:
a. Penutupan identitas, adopsi identitas
prematur yang diinginkan oleh orang yang penting bagi individu tanpa
memperhatikan keinginan, aspirasi dan potensi diri individu tersebut.
b. Identitas negatif, asumsi identitas yang tidak
wajar, bertentangan dengan nilai, dan harapan masyarakat.
Mekanisme pertahanan ego
termasuk gangguan fantasi, disosiasi, isolasi, proyeksi, pergeseran (displacement), peretakan (spiliting), berbalik marah terhadap diri
sendiri, dan amuk.
F. Masalah keperawatan
Menurut Keliat (1999) ada
beberapa masalah keperawatan yang sering muncul pada klien dengan harga diri
rendah yaitu (a) resiko perilaku kekerasan, (b) gangguan harga diri rendah
situasional atau kronik, (c) Koping individu tidak efektif.
G. Pohon masalah
|
|
Menurut Keliat
(1999) pohon masalah pada kasus harga diri rendah adalah sebagai berikut:
![]() |
|||||
|
|||||
|
|||
Gambar
2: pohon masalah harga diri rendah (Keliat, 1999)
H. Diagnosa keperawatan dari pohon masalah
Keliat (1999) berpendapat bahwa
diagnosa keperawatan yang dapat dirumuskan dari pohon masalah tersebut diatas
adalah sebagai berikut:
- Resiko
perilaku kekerasan berhubungan dengan harga diri rendah.
- Gangguan
konsep diri: harga diri rendah berhubungan dengan koping individu tidak
efektif.
I. Fokus intervensi
Fokus intervensi dari diagnosa
keperawatan yang muncul diatas pada
klien dengan harga diri rendah adalah sebagai berikut:
1.
Resiko
perilaku kekerasan berhubungan dengan harga diri rendah. (Keliat, 1999).
Tujuan Umum:
Klien dapat berhubungan dengan
orang lain secara optimal.
Tujuan khusus:
Klien dapat membina berhubungan saling
percaya
Kriteria evaluasi: ekspresi
wajah bersahabat, menunjukkan rasa senang, ada kontak mata, mau berjabat tangan
dan menyebut nama, mau menjawab salam, klien mau duduk berdampingan dengan
perawat, mau mengutarakan masalah yang
dihadapi.
Intervensi:
1.1.1
Bina
hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik
a. Sapa klien dengan ramah baik dengan verbal
maupun non verbal.
b. Perkenalkan diri dengan sopan.
c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama
panggilan yang disukai klien.
d. Jelaskan tujuan pertemuan.
e. Jujur dan menepati janji.
f. Tunjukkan sikap menerima klien apa adanya.
g. Beri perhatian kepada klien dan perhatika
kebutuhan dasar klien.
Rasional: hubungan saling
percaya merupakan dasar untuk hubungan interaksi selanjutnya.
1.1.2
Klien
dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.
Kriteria evaluasi: klien dapat
menyebutkan kemampuan yang dimiliki klien di RS, rumah, dan tempat kerja.
Daftar positif keluarga klien dan daftar positif lingkungan klien.
Intervensi:
a. Diskusikan kemampuan dan aspek positif
yang dimiliki klien, buat daftarnya.
b. Setiap bertemu klien dihindarkan dari
memberi penilaian negatif.
c. Utamakan memberi pujian yang realistik
pada kemampuan dan aspek positif klien.
Rasional: diskusikan tingkat
kemampuan klien seperti menilai realitas, kontrol diri atau integritas ego
diperlukan sebagai dasar asuhan keperawatannya, reinforcement positif akan
meningkatkan harga diri klien, dan pujian yang realistik tidak menyebabkan
klien melakukan kegiatan hanya karena ingin mendapatkan pujian.
1.1.3
Klien
dapat menilai kemampuan yang digunakan.
Kriteria evaluasi: klien dapat
menilai kemampuan yang dapat digunakan di rumah sakit dan klien menilai
kemampuan yang dapat digunakan dirumah.
Intervensi keperawatan:
a. Diskusikan dengan klien kemampuan yang
masih digunakan selama sakit.
b. Diskusikan kemampuan yang dapat
dilanjutkan penggunaan di rumah sakit.
c.
Berikan pujian.
Rasional: diskusikan pada klien tentang kemampuan yang
dimiliki adalah prasarat untuk berubah dan mengerti tentang kemampuan yang
dimiliki dapat memotivasi klien untuk tetap mempertahankan penggunaannya.
1.1.4
Klien
dapat menetapkan dan merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang
dimiliki.
Kriteria evaluasi: klien
memiliki kemampuan yang akan dilatih, klien mencoba, dan membuat jadwal harian.
Intervensi keperawatan:
a.
Minta klien untuk memilih satu
kegiatan yang mau dilakukan di rumah sakit.
b.
Bantu klien melakukannya jika
perlu beri contoh.
c.
Beri pujian atas keberhasilan
klien.
d.
Diskusikan jadwal kegiatan
harian atas kegiatan yang telah dilatih.
e.
Rencanakan bersama klien
aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan, buat jadwal
kegiatan mandiri, kegiatan dengan bantuan sebagian, dan kegiatan yang
membutuhkan bantuan total
f.
Tingkatkan kegiatan yang
disukai sesuai dengan kondisi klien
g. Beri contoh cara
pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan.
Rasional: klien adalah
individu yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, klien perlu bertindak
secara realistis dalam kehidupannya, dan contoh peran yang dilihat klien akan
memotovasi klien untuk melaksanakan kegiatan.
1.1.5
Klien
dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya.
Kriteria evaluasi: klien
melakukan kegiatan yang telah dilatih (mandiri, dengan bantuan atau
tergantung), klien mampu melakukan beberapa kegiatan mandiri.
Intervensi Keperawatan :
a.
Beri kesempatan pada klien
untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan.
b.
Beri pujian atas keberhasilan
klien
c.
Diskusikan kemungkinan pelaksanaan
di rumah
Rasional: reinforcement positif dapat meningkatkan harga
diri kllien dan memberikan kesempatan kepada klien untuk tetap melakukan
kegiatan yang biasa dilakukan
1.1.6
Klien
dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
Kriteria evaluasi: keluarga
dapat memberi dukungan dan pujian serta memahami jadwal kegiatan harian klien.
Intervensi keperawatan:
a. Beri pendidikan kesehatan pada keluarga
tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah.
b. Bantu keluarga memberikan dukungan selama
klien dirawat.
c. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di
rumah.
d. Jelaskan cara pelaksanaan jadwal kegiatan
klien di rumah.
e. Anjurkan keluaraga untuk memberi pujian
pada klien setiap berhasil.
Rasional: mendorong keluarga
akan sangat berpengaruh dalam mempercepat proses penyembuhan klien dan
meningkatkan peran serta keluarga dalam merawat klien di rumah.
2. Harga diri rendah berhubungan dengan
koping individu tidak efektif (Keliat, 1999).
Tujuan umum:
Klien dapat memiliki koping
yang efektif.
Tujuan khusus:
Klien dapat mengungkapkan perasaannya
secara bebas.
Kriteria evaluasi: Klien
mengungkapkan perasaanya secara bebas.
Intervensi:
a.
Ijinkan klien untuk menangis.
b.
Sediakan kertas dan alat tulis
jika klien belum mau bicara.
c. Nyatakan kepada klien bahwa perawat dapat mengerti apabila klien
belum siap membicarakan
permasalahannya.
Klien dapat mengidentifikasi koping dan
perilaku yang berkaitan dengan kejadian yang dihadapi.
Kriteria evaluasinya klien
dapat mengidentifikasi koping dan perilaku yang berkaitan dengan kejadian yang
dihadapi.
Intervensi:
a. Tanyakan kepada klien apakah pernah
mengalami hal yang sama.
b. Tanyakan cara-cara yang dapat dilakukan
dalam mengatasi perasaan dan masalah.
c. Identifikasi koping yang pernah dipakai.
d. Diskusikan dengan klien alternatif koping
yang tepat bagi klien.
Klien dapat memodifikasi pola kognitif
yang negatif.
Kriteria evaluasi: klien
memodifikasi pola kognitif yang negatif.
Intervensi:
a. Diskusikan tentang masalah yang dihadapi
klien.
b. Identifikasi pemikiran negatif dan bantu
untuk menurunkan melalui interupsi atau substitusi.
c. Bantu klien untuk meningkatkan pemikiran
yang positif.
d. Identifikasi ketetapan persepsi klien yang
tepat tentang penyimpangan dan pendapatnya yang tidak rasional.
e. Kurangi penilaian klien yang negatif
terhadap dirinya.
f. Evaluasi ketepatan persepsi, logika, dan
kesimpulan yang dibuat klien.
g. Bantu klien untuk menyadari nilai yang
dimilikinya dan perubahan yang terjadi.
Klien dapat berpartisipasi dalam
pengambilan keputusan yang berkenaan dengan perawatan dirinya.
Kriteria evaluasi: klien berpartisipasi dalam
pengambilan keputusan yang berkenaan dengan perawatan dirinya.
Intervensi:
a. Libatkan klien dalam menetapkan tujuan
perawatan yang ingin dicapai.
b. Motivasi klien untuk membuat jadwal
aktivitas perawatan diri.
c. Berikan klien privasi sesuai dengan
kebutuhan yang ditentukan.
d. Berikan reinforcement positif untuk
keputusan yang dibuat.
e. Berikan pujian jika klien berhasil
melakukan kegiatan atau penampilannya bagus.
f. Motivasi klien untuk mempertahankan
kegiatan tersebut.
Klien dapat memotivasi untuk aktif mencapai tujuan yang realistik.
Kriteria evaluasi: klien termotivasi untuk aktif
mencapai tujuan yang realistik.
Intervensi:
a. Bantu klien untuk menetapkan tujuan yang
realistik. Fokuskan kegiatan pada saat sekarang bukan pada masa lalu.
b. Bantu klien untuk mengidentifikasi area
situasi kehidupan yang dapat dikontrolnya.
c. Identifikasi cita-cita yang ingin dicapai
oleh klien.
d. Dorong untuk berpartisipasi dalam
aktivitas tersebut dan berikan penguatan positif untuk berpartisipasi dan
pencapaiannya.
e. Motivasi keluarga untuk berperan aktif
dalam membantu klien menurunkan perasaan tidak bersalah.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar