Senin, 15 Februari 2016

Lp Depresi pada Lansia STIKES KHARISMA KARAWANG

Laporan Pendahuluan Depresi pada lansia


STIKes Kharisma Karawang.jpg
 





   



Disusun oleh :
Karsam eko wijaya kusuma



STIKes KHARISMA KARAWANG
2015


BAB I
PEMBAHASAN
A.    LATAR BELAKANG
Menjadi tua adalah suatu proses natural/alami yang terjadi pada manusia . Secara umum proses penuaan ini menyangkut 2 komponen utama yaitu komponen biologis dan komponen psikologis. Perubahan pada kedua komponen ditambah dengan sikap masyarakat terhadapnya akan mempengaruhi kualitas hidup lansia. Jika mereka dihargai, dicintai dan dihormati keluarganya baik dalam keadaan sehat maupun sakit, kontribusi mereka di komunitas tempat mereka hidup diakui dan dihargai maka lansia menjadi sangat aktif dan hidup mandiri (Watson Roger, 2003).
Menurut perkiraan dari United States Bureau of Census 1993, populasi usia lanjut di Indonesia diproyeksikan pada tahun 1990 – 2023 akan naik 414 %, suatu angka tertinggi di seluruh dunia dan pada tahun 2020, Indonesia akan menempati urutan keempat jumlah usia lanjut paling banyak sesudah Cina, India, dan Amerika (Depkes RI, 2001). Fenomena ini akan berdampak pada semakin tingginya masalah yang akan dihadapi baik secara biologis, psikologis dan sosiokultural. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengidentifikasi lansia sebagai kelompok masyarakat yang mudah terserang kemunduran fisik dan mental. Dilihat dari perspektif keperawatan dikatakan ada empat besar penderitaan geriatrik yaitu immobilisasi, ketidakstabilan, inkontinensia, dan gangguan intelektual. Sifat umum dari empat besar tersebut adalah 1) mempunyai masalah yang kompleks, 2) tidak ada pengobatan yang sederhana, 3) hancurnya kemandirian, dan 4) membutuhkan bantuan orang lain yang berkaitan erat dengan keperawatan (Isaac, 1981).
Depresi merupakan problem kesehatan masyarakat yang cukup serius. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa depresi berada pada urutan ke empat penyakit di dunia. Sekitar 20 % wanita dan 12 % pria dalam suatu waktu kehidupannya pernah mengalami depresi (Amir N, 2005). Depresi adalah kondisi umum yang terjadi pada lansia. Kondisi ini sering berhubungan dengan kondisi sosial, kejadian hidup seperti kehilangan, masuk rumah sakit, menderita sakit atau merasa ditolak oleh teman dan keluarganya serta masalah fisik yang dialaminya. Cash, H (1998) dalam Hawari (2001) mengemukakan bahwa 1 dari 5 orang pernah mengalami depresi dalam kehidupannya, selanjutnya 5-15 % para pasien-pasien depresi melakukan bunuh diri setiap tahun.
B.     Rumusan masalah
a.       Menjelaskan tentang depresi
b.      Etiologi depresi
c.       Menjelaskan klasifikasi depresi
d.      Menjelaskan skala depresi lansia


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian
Depresi adalah suatu perasaan sedih dan pesimis yang berhubungan dengan suatu penderitaan. Dapat berupa serangan yang ditujukan pada diri sendiri atau perasaan marah yang dalam. (Nugroho, wahyudi: 2000)
Depresi atau melankolia adalah suatu kesedihan atau perasaan duka yang berkepanjangan. (Stuart: 1998)
Menurut kriteria baku yang dikeluarkan oleh DSM-III R yang dikeluarkan ole Asosiasi Psikiater Amerika, diagnosis depresi harus memenuhi kriteria dibawah ini (Van der Cammen, 1991):
1. Perasaan tertekan hampir sepanjang hari.
2. Secara nyata berkurang perhatian atau keinginan untuk berbagai kesenangan atau semua aktifitas.
3. Berat badan turun atau naik secara nyata, atau turun naiknya selera makan secara nyata.
4. Insomnia atau justru hipersomnia.
5. Agitasi atau retardasi psikomotorik.
6. Rasa capai atau lemah atau hilangnya kekuatan.
7. Perasaaan tidak berharga, rasa bersalah yang berlebihan
8. Hilangnya kemampuan untuk berfikir, berkonsentrasi atau membuat keputusan.
9. Pikiran berulang tentang kematian (bukan sekedar takut mati), pikiran berulang untuk lakukan bunuh diri tanpa rencana yang jelas.


B.     Etiologi
Depresi pada usia lanjut bukan merupakan suatu keadaan yang disebabkan oleh patologi tunggal, tetapi biasanya bersifat multifaktorial. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan depresi antara lain:
1.      Susunan kimia otak dan tubuh
Beberapa bahan kimia didalam otak dan tubuh tampaknya memegang peranan yang besar dalam mengendalikan emosi. Pada orang depresi ditemukan dalam jumlah bahan kimia tersebut. Hormon noradrenalin yang memegang peranan utama dalam mengendalikan otak dan aktifitas tubuh tampaknya berkurang pada mereka yang mengalami depresi. Pada wanita perubahan hormon dapat meningkatkan resiko terjadinya depresi.
2.      Kepribadian depresif
Orang yang mempunyai kepribadian depresif (terus-menerus bersikap sedih dan putus asa) membuat mereka terasing dalam masyarakat dan akibatnya mengakibatkan terjadinya depresi.
3.      Stress
Kematian orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, pindah rumah atau stress yang berat dianggap dapat menyebabkan depresi. Reaksi terhadap stress seringkali ditangguhkan dan depresi dapat terjadi beberapa bulan sesudah peristiwa itu terjadi.
4.      Penyakit fisik
Lansia yang menderita fisik atau kondisi kelumpuhan yang lama seperti arthritis rematoid dapat berakhir dengan depresi

C.     Klasifikasi
Penggolongan depresi menurut penyebabnya antara lain:
1. Depresi reaktif
Pada depresi reaktif, gejalanya diperkirakan akibat stress luar seperti kehilangan seseorang atau kehilangan pekerjaan.
2. Depresi endogenus
Pada depresi endogenus gejalanya terjadi tanpa dipengaruhi faktor luar. Seorang psikiater mendiagnosa seorang pasien menderita depresi endogenus jika mereka menunjukkan tanda – tanda sedih menarik diri dan mempunyai beberapa gejala berikut ini:
a. Hilangnya hasrat seks
b. Anoreksia atau kehilangan berat badan
c. Kelambatan fisik dan mental atau kegelisahan serta agitasi
d. Bangun pagi-pagi
e. Perasaan bersalah
f. Tidak menikmati apa-apa
g. Suasana sedih yang menetap yang tidak berubah walaupun hal menyenangkan terjadi
h. Suasana hati sedih yang berbeda dari kesedihan biasa.
D.    Skala depresi lansia
Skala depresi dapat bermanfaat untuk memeriksa depresi atau distres psikologi menyeluruh. Pertimbangan yang dilakukan harus diarahkan pada kedua sisi yang ada, saat mencoba untuk mendefinisikan depresi: pola gejala dan beratnya, “Pola gejala” merujuk pada jenis gejala yang nantinya membentuk bahan dalam skala yang kita bicarakan ini, sebagai contoh, keluhan-keluhan somatis, ketiadaan harapan, atau kemudahan pasien terganggu akan sesuatu. Saat bahan dalam skala telah teringkas untuk angka hasil akhir, asumsi implisit yang timbul adalah bahwa gejala-gejala tersebut ternyata berimbang beratnya. Individu dengan angka lebih diasumsikan sebagai yang lebih tertekan, tetapi hal ini tidak benar memperhitungkan tingkat gejala yang dialami oleh pasien. Sedang pada saat ini yang sama, penilaian medis yang ada masih merupakan hal terpenting, skala ini dapat membantu untuk menentukan apakah pasien telah mengalami suatu perkembangan yang memuaskan, atau apakah pasien memerlukan pengkajian lebih lanjut, atau bahkan pemindahan. Puncaknya, saat ini kita pergunakan, kerangka waktu untuk pengkajian yang ada.
Salah satu instrumen yang dapat membantu adalah GDS (Geriatri Depression Scale). Skala depresi geriatri (GDS) adalah suatu kuesioner, terdiri dari 30 pertanyaan yang harus dijawab. GDS ini dapat dimampatkan menjadi hanya 15 pertanyaan yang harus dijawab. Sederhana saja, hanya dengan “YA atau TIDAK”, suatu bentuk penyederhanaan dari skala yang mempergunakan lima rangkai respon kategori. Kuesioner ini mendapatkan angka dengan memberi satu pokok untuk masing – masing jawaban yang cocok dengan apa yang ada dalam sintesa di belakang pertanyaan tertulis tersebut. Angka akhir antara 10 sampai 11, biasanya dipergunakan sebagai suatu tanda awal untuk memisahkan pasien tersebut masuk ke dalam kelompok depresi atau kelompok non depresi ( Gallo,  1998)
Geriatri Depression Scale ( GDS ) tersebut terpilah dari 100 pertanyaan yang dirasakan berhubungan dengan ketujuh karakteristik depresi pada kehidupan lansia. Secara khusus 100 pertanyaan tersebut dikelompokkan secara apriori ke dalam beberapa sisi yaitu :
a)      Kekuatiran somatis
b)      Penurunan afek
c)      Gangguan kognitif
d)     Kurangnya orientasi terhadap masa yang akan datang
e)      Kurangnya harga diri
Skala depresi yesavage
1. Apakah anda puas dengan kehidupan anda?
2. Apakah anda mengurangi hobi atau aktivitas sehari-hari?
3. Apakah anda merasa bahwa hidup anda kosong?
4. Apakah anda sering merasa bosan?
5. Apakah anda selalu bersemangat?
6. Apakah anda takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada anda?
7. Apakah anda selalu merasa bahagia?
8. Apakah anda sering merasa putus asa?
9. Apakah anda lebih suka tinggal tinggal di rumah pada malam hari dari pada keluar dan melakukan sesuatu yang baru?
10. Apakah anda merasa mempunyai lebih banyak masalah dengan ingatan dibanding orang lain?
11. Apakah anda berpikir bahwa hidup ini sangat menyenangkan?
12. Apakah anda merasa tidak berguna?
13. Apakah anda merasa tidak berenergi?
14. Apakah anda berpikir bahwa situasi anda tidak ada harapan?
15. Apakah anda berpikir bahwa banyak orang yang lebih baik dari pada anda?
ü Skor 1 poin untuk tiap respon yang sesuai dengan jawaban YA atau TIDAK setelah pertanyaan
ü Skor 5 atau lebih menunjukkan adanya depresi.
E.     Ukuran skala depresi
Adapun untuk mengukur tingkat depresi seseorang menggunakan Hamilton Rating Scale for Depression (A.Aziz,2007) :
1.      Keadaan perasaan sedih (sedih,putus asa,tak berdaya,tak berguna)
         Perasaan ini ada hanya bila ditanya; perasaan ini dinyatakan secara verbal spontan; perasaan yang nyata tanpa komunikasi verbal, misalnya ekspresi muka, bentuk, suara, dan kecenderungan menangis; pasien menyatakan perasaan yang sesungguhnya ini dalam komunikasi baik verbal maupun nonverbal secara spontan.
2.      Perasaan bersalah
Menyalahkan diri sendiri dan merasa sebagai penyebab penderitaan orang lain; ada ide-ide bersalah atau renungan tentang kesalahan-kesalahan masa lalu; sakit ini sebagai hukuman, waham bersalah dan berdosa; ada suara-suara kejaran atau tuduhan dan halusinasi penglihatan tentang hal-hal yang mengancamnya
3.      Bunuh diri
merasa hidup tak ada gunanya, mengharapkan kematian atau pikiran-pikiran lain kearah itu, ada ide-ide bunuh diri atau langkah-langkah ke arah itu.

4.      Gangguan pola tidur (initial insomnia)
Ada keluhan kadang-kadang sukar masuk tidur misalnya, lebih dari setengah jam baru masuk tidur; ada keluhan tiap malam sukar masuk tidur
5.      Gangguan pola tidur (middle insomnia)
pasien mengeluh gelisah dan terganggu sepanjang malam, terjadi sepanjang malam (bangun dari tempat tidur kecuali buang air kecil)
6.      Gangguan pola tidur (late insomnia)
bangun saat dini hari tetapi dapat tidur lagi, bangun saat dini hari tetapi tidak dapat tidur lagi
7.      Kerja dan kegiatan-kegiatannya
pikiran perasaan ketidakmampuan keletihan/kelemahan yang berhubungan dengan kegiatan kerja atau hobi; hilangnya minat terhadap pekerjaan/hobi atau kegiatan lainnya baik langsung atau tidak pasien menyatakan kelesuan, keragu-raguan dan rasa bimbang; berkurangnya waktu untuk aktivitas sehari-hari atau produktivitas menurun. Bila pasien tidak sanggup beraktivitas, sekurang-kurangnya 3 jam sehari dalam kegiatan sehari-hari; tidak bekerja karena sakitnya sekarang (dirumah sakit) bila pasien tidak bekerja sama sekali, kecuali tugas-tugas di bangsal atau jika pasien gagal melaksanakan; kegiatan-kegiatan di bangsal tanpa bantuan
8.      Kelambanan (lambat dalam berpikir , berbicara gagal berkonsentrasi, dan aktivitas motorik menurun )
sedikit lamban dalam wawancara; jelas lamban dalam wawancara; sukar diwawancarai; stupor (diam sama sekali)

9.      Kerja dan kegiatan-kegiatannya
kegelisahan ringan; memainkan tangan jari-jari, rambut, dan lain-lain; bergerak terus tidak dapat duduk dengan tenang; meremas-remas tangan, menggigit-gigit kuku, menarik-narik rambut, menggigit-gigit bibir
10.  Kecemasan (ansietas somatik)
sakit nyeri di otot-otot, kaku, dan keduten otot; gigi gemerutuk; suara tidak stabil; tinitus (telinga berdenging); penglihatan kabur; muka merah atau pucat, lemas; perasaan ditusuk-tusuk
11.  Kecemasan (ansietas psikis)
ketegangan subyektif dan mudah tersinggung; mengkhawatirkan hal-hal kecil; sikap kekhawatiaran yang tercermin di wajah atau pembicaraannya; ketakutan yang diutarakan tanpa ditanya
12.  Gejala somatik (pencernaan)
nafsu makan berkurang tetapi dapat makan tanpa dorongan teman, merasa perutnya penuh; sukar makan tanpa dorongan teman, membutuhkan pencahar untuk buang air besar atau obat-obatan untuk saluran pencernaan
13.  Gejala somatik (umum)
anggota gerak, punggung atau kepala terasa berat; sakit punggung, kepala dan otot-otot, hilangnya kekuatan dan kemampuan
14.  Kotamil (genital)
sering buang air kecil terutama malam hari dikala tidur; tidak haid, darah haid sedikit sekali; tidak ada gairah seksual dingin (firgid); ereksi hilang; impotensi

15.  Hipokondriasis (keluahan somatik, fisik yang berpindah-pindah)
dihayati sendiri, preokupasi (keterpakuan) mengenai kesehatan sendiri, sering mengeluh membutuhkan pertolongan orang lain, delusi hipokondriasi
16.  Gejala-gejala obsesi dan kompulsi
Adapun cara penilaian masing-masing gejala adalah sebagai berikut (A.Aziz,2007) :
0       :           Tidak ada        (tidak ada gejala sama sekali)
1       :           Ringan             (satu gejala dari pilihan yang ada)
2       :           sedang             (separuh dari gejala yang ada)
3       :           berat                (lebih dari separuh dari gejala yang ada)
4       :           sangat berat     (semua gejala ada)
Untuk penilaian skornya yaitu (A.Aziz,2007) :
Kurang dari 17         :           tidak ada depresi
18 – 24                     :           depresi ringan
25 – 34                     :           depresi sedang
35 – 51                     :           depresi berat
52 – 68                     :           depresi berat sekali







BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Depresi adalah suatu perasaan sedih dan pesimis yang berhubungan dengan suatu penderitaan. Dapat berupa serangan yang ditujukan pada diri sendiri atau perasaan marah yang dalam. (Nugroho, wahyudi: 2000)Depresi atau melankolia adalah suatu kesedihan atau perasaan duka yang berkepanjangan. (Stuart: 1998)
Skala depresi dapat bermanfaat untuk memeriksa depresi atau distres psikologi menyeluruh. Gejala-gejala obsesi dan kompulsi
Adapun cara penilaian masing-masing gejala adalah sebagai berikut (A.Aziz,2007) :
0       :           Tidak ada        (tidak ada gejala sama sekali)
1       :           Ringan             (satu gejala dari pilihan yang ada)
2       :           sedang             (separuh dari gejala yang ada)
3       :           berat                (lebih dari separuh dari gejala yang ada)
4       :           sangat berat     (semua gejala ada)
Untuk penilaian skornya yaitu (A.Aziz,2007) :
Kurang dari 17         :           tidak ada depresi
18 – 24                     :           depresi ringan
25 – 34                     :           depresi sedang
35 – 51                     :           depresi berat
52 – 68                     :           depresi berat sekali





DAFTAR PUSTAKA

Isaac. 2003. Buku Pedoman Kesehatan Jiwa, Jakarta : tp.
Watson R. 2003. Perawatan Pada Lansia, Jakarta : EGC
Dadang Hawari D. 2002. Manajemen Depresi, Jakarta : Gaya Baru





1 komentar: