Laporan Pendahuluan Depresi pada lansia
![]() |
Disusun oleh :
Karsam eko wijaya kusuma
STIKes
KHARISMA KARAWANG
2015
BAB I
PEMBAHASAN
A. LATAR BELAKANG
Menjadi tua adalah suatu proses
natural/alami yang terjadi pada manusia . Secara umum proses penuaan ini
menyangkut 2 komponen utama yaitu komponen biologis dan komponen psikologis.
Perubahan pada kedua komponen ditambah dengan sikap masyarakat terhadapnya akan
mempengaruhi kualitas hidup lansia. Jika mereka dihargai, dicintai dan
dihormati keluarganya baik dalam keadaan sehat maupun sakit, kontribusi mereka
di komunitas tempat mereka hidup diakui dan dihargai maka lansia menjadi sangat
aktif dan hidup mandiri (Watson Roger, 2003).
Menurut perkiraan dari United States Bureau
of Census 1993, populasi usia lanjut di Indonesia diproyeksikan pada tahun 1990
– 2023 akan naik 414 %, suatu angka tertinggi di seluruh dunia dan pada tahun
2020, Indonesia akan menempati urutan keempat jumlah usia lanjut paling banyak
sesudah Cina, India, dan Amerika (Depkes RI, 2001). Fenomena ini akan berdampak
pada semakin tingginya masalah yang akan dihadapi baik secara biologis,
psikologis dan sosiokultural. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah
mengidentifikasi lansia sebagai kelompok masyarakat yang mudah terserang
kemunduran fisik dan mental. Dilihat dari perspektif keperawatan dikatakan ada
empat besar penderitaan geriatrik yaitu immobilisasi, ketidakstabilan,
inkontinensia, dan gangguan intelektual. Sifat umum dari empat besar tersebut
adalah 1) mempunyai masalah yang kompleks, 2) tidak ada pengobatan yang
sederhana, 3) hancurnya kemandirian, dan 4) membutuhkan bantuan orang lain yang
berkaitan erat dengan keperawatan (Isaac, 1981).
Depresi merupakan problem kesehatan
masyarakat yang cukup serius. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa
depresi berada pada urutan ke empat penyakit di dunia. Sekitar 20 % wanita dan
12 % pria dalam suatu waktu kehidupannya pernah mengalami depresi (Amir N,
2005). Depresi adalah kondisi umum yang terjadi pada lansia. Kondisi ini sering
berhubungan dengan kondisi sosial, kejadian hidup seperti kehilangan, masuk
rumah sakit, menderita sakit atau merasa ditolak oleh teman dan keluarganya
serta masalah fisik yang dialaminya. Cash, H (1998) dalam Hawari (2001)
mengemukakan bahwa 1 dari 5 orang pernah mengalami depresi dalam kehidupannya,
selanjutnya 5-15 % para pasien-pasien depresi melakukan bunuh diri setiap tahun.
B.
Rumusan masalah
a.
Menjelaskan tentang depresi
b.
Etiologi depresi
c.
Menjelaskan klasifikasi depresi
d.
Menjelaskan skala depresi
lansia
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Depresi adalah suatu perasaan sedih dan pesimis yang
berhubungan dengan suatu penderitaan. Dapat berupa serangan yang ditujukan pada
diri sendiri atau perasaan marah yang dalam. (Nugroho, wahyudi: 2000)
Depresi atau melankolia adalah suatu kesedihan atau
perasaan duka yang berkepanjangan. (Stuart: 1998)
Menurut kriteria baku yang dikeluarkan oleh DSM-III R
yang dikeluarkan ole Asosiasi Psikiater Amerika, diagnosis depresi harus
memenuhi kriteria dibawah ini (Van der Cammen, 1991):
1. Perasaan
tertekan hampir sepanjang hari.
2. Secara nyata berkurang perhatian atau keinginan untuk berbagai kesenangan atau semua aktifitas.
3. Berat badan turun atau naik secara nyata, atau turun naiknya selera makan secara nyata.
4. Insomnia atau justru hipersomnia.
5. Agitasi atau retardasi psikomotorik.
6. Rasa capai atau lemah atau hilangnya kekuatan.
7. Perasaaan tidak berharga, rasa bersalah yang berlebihan
8. Hilangnya kemampuan untuk berfikir, berkonsentrasi atau membuat keputusan.
9. Pikiran berulang tentang kematian (bukan sekedar takut mati), pikiran berulang untuk lakukan bunuh diri tanpa rencana yang jelas.
2. Secara nyata berkurang perhatian atau keinginan untuk berbagai kesenangan atau semua aktifitas.
3. Berat badan turun atau naik secara nyata, atau turun naiknya selera makan secara nyata.
4. Insomnia atau justru hipersomnia.
5. Agitasi atau retardasi psikomotorik.
6. Rasa capai atau lemah atau hilangnya kekuatan.
7. Perasaaan tidak berharga, rasa bersalah yang berlebihan
8. Hilangnya kemampuan untuk berfikir, berkonsentrasi atau membuat keputusan.
9. Pikiran berulang tentang kematian (bukan sekedar takut mati), pikiran berulang untuk lakukan bunuh diri tanpa rencana yang jelas.
B. Etiologi
Depresi pada
usia lanjut bukan merupakan suatu keadaan yang disebabkan oleh patologi
tunggal, tetapi biasanya bersifat multifaktorial. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan
depresi antara lain:
1.
Susunan kimia otak dan tubuh
Beberapa bahan kimia didalam otak dan tubuh tampaknya
memegang peranan yang besar dalam mengendalikan emosi. Pada orang depresi
ditemukan dalam jumlah bahan kimia tersebut. Hormon noradrenalin yang memegang
peranan utama dalam mengendalikan otak dan aktifitas tubuh tampaknya berkurang
pada mereka yang mengalami depresi. Pada wanita perubahan hormon dapat meningkatkan
resiko terjadinya depresi.
2.
Kepribadian depresif
Orang yang mempunyai kepribadian depresif (terus-menerus bersikap
sedih dan putus asa) membuat mereka terasing dalam masyarakat dan akibatnya mengakibatkan
terjadinya depresi.
3.
Stress
Kematian orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, pindah rumah
atau stress yang berat dianggap dapat menyebabkan depresi. Reaksi terhadap
stress seringkali ditangguhkan dan depresi dapat terjadi beberapa bulan sesudah
peristiwa itu terjadi.
4.
Penyakit fisik
Lansia yang menderita fisik atau kondisi kelumpuhan yang lama
seperti arthritis rematoid dapat berakhir dengan depresi
C. Klasifikasi
Penggolongan depresi menurut penyebabnya antara lain:
1. Depresi reaktif
Penggolongan depresi menurut penyebabnya antara lain:
1. Depresi reaktif
Pada depresi reaktif, gejalanya diperkirakan akibat stress luar
seperti kehilangan seseorang atau kehilangan pekerjaan.
2. Depresi
endogenus
Pada depresi endogenus gejalanya terjadi tanpa dipengaruhi faktor
luar. Seorang psikiater mendiagnosa seorang pasien menderita depresi endogenus
jika mereka menunjukkan tanda – tanda sedih menarik diri dan mempunyai beberapa
gejala berikut ini:
a. Hilangnya hasrat seks
b. Anoreksia atau kehilangan berat badan
c. Kelambatan fisik dan mental atau kegelisahan serta agitasi
d. Bangun pagi-pagi
e. Perasaan bersalah
f. Tidak menikmati apa-apa
g. Suasana sedih yang menetap yang tidak berubah walaupun hal
menyenangkan terjadi
h. Suasana hati sedih yang berbeda dari kesedihan biasa.
D.
Skala depresi lansia
Skala depresi dapat bermanfaat untuk
memeriksa depresi atau distres psikologi menyeluruh. Pertimbangan yang
dilakukan harus diarahkan pada kedua sisi yang ada, saat mencoba untuk
mendefinisikan depresi: pola gejala dan beratnya, “Pola gejala” merujuk pada
jenis gejala yang nantinya membentuk bahan dalam skala yang kita bicarakan ini,
sebagai contoh, keluhan-keluhan somatis, ketiadaan harapan, atau kemudahan
pasien terganggu akan sesuatu. Saat bahan dalam skala telah teringkas untuk
angka hasil akhir, asumsi implisit yang timbul adalah bahwa gejala-gejala
tersebut ternyata berimbang beratnya. Individu dengan angka lebih diasumsikan
sebagai yang lebih tertekan, tetapi hal ini tidak benar memperhitungkan tingkat
gejala yang dialami oleh pasien. Sedang pada saat ini yang sama, penilaian
medis yang ada masih merupakan hal terpenting, skala ini dapat membantu untuk
menentukan apakah pasien telah mengalami suatu perkembangan yang memuaskan,
atau apakah pasien memerlukan pengkajian lebih lanjut, atau bahkan pemindahan.
Puncaknya, saat ini kita pergunakan, kerangka waktu untuk pengkajian yang ada.
Salah satu instrumen yang dapat
membantu adalah GDS (Geriatri Depression Scale). Skala depresi geriatri
(GDS) adalah suatu kuesioner, terdiri dari 30 pertanyaan yang harus dijawab. GDS
ini dapat dimampatkan menjadi hanya 15 pertanyaan yang harus dijawab. Sederhana
saja, hanya dengan “YA atau TIDAK”, suatu bentuk penyederhanaan dari skala yang
mempergunakan lima rangkai respon kategori. Kuesioner ini mendapatkan angka
dengan memberi satu pokok untuk masing – masing jawaban yang cocok dengan apa
yang ada dalam sintesa di belakang pertanyaan tertulis tersebut. Angka akhir
antara 10 sampai 11, biasanya dipergunakan sebagai suatu tanda awal untuk
memisahkan pasien tersebut masuk ke dalam kelompok depresi atau kelompok non
depresi ( Gallo, 1998)
Geriatri Depression Scale ( GDS ) tersebut terpilah dari 100 pertanyaan
yang dirasakan berhubungan dengan ketujuh karakteristik depresi pada kehidupan
lansia. Secara khusus 100 pertanyaan tersebut dikelompokkan secara apriori ke
dalam beberapa sisi yaitu :
a)
Kekuatiran somatis
b)
Penurunan afek
c)
Gangguan kognitif
d) Kurangnya
orientasi terhadap masa yang akan datang
e)
Kurangnya harga diri
Skala depresi
yesavage
1. Apakah anda
puas dengan kehidupan anda?
2. Apakah anda
mengurangi hobi atau aktivitas sehari-hari?
3. Apakah anda
merasa bahwa hidup anda kosong?
4. Apakah anda
sering merasa bosan?
5. Apakah anda
selalu bersemangat?
6. Apakah anda
takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada anda?
7. Apakah anda
selalu merasa bahagia?
8. Apakah anda
sering merasa putus asa?
9. Apakah anda
lebih suka tinggal tinggal di rumah pada malam hari dari pada keluar dan
melakukan sesuatu yang baru?
10. Apakah anda
merasa mempunyai lebih banyak masalah dengan ingatan dibanding orang lain?
11. Apakah anda
berpikir bahwa hidup ini sangat menyenangkan?
12. Apakah anda
merasa tidak berguna?
13. Apakah anda
merasa tidak berenergi?
14. Apakah anda
berpikir bahwa situasi anda tidak ada harapan?
15. Apakah anda
berpikir bahwa banyak orang yang lebih baik dari pada anda?
ü Skor 1 poin
untuk tiap respon yang sesuai dengan jawaban YA atau TIDAK setelah
pertanyaan
ü Skor 5 atau
lebih menunjukkan adanya depresi.
E. Ukuran skala depresi
Adapun untuk mengukur tingkat depresi
seseorang menggunakan Hamilton Rating
Scale for Depression (A.Aziz,2007) :
1. Keadaan
perasaan sedih (sedih,putus asa,tak berdaya,tak berguna)
Perasaan
ini ada hanya bila ditanya; perasaan ini dinyatakan secara verbal spontan;
perasaan yang nyata tanpa komunikasi verbal, misalnya ekspresi muka, bentuk,
suara, dan kecenderungan menangis; pasien menyatakan perasaan yang sesungguhnya
ini dalam komunikasi baik verbal maupun nonverbal secara spontan.
2. Perasaan
bersalah
Menyalahkan diri sendiri dan merasa sebagai
penyebab penderitaan orang lain; ada ide-ide bersalah atau renungan tentang
kesalahan-kesalahan masa lalu; sakit ini sebagai hukuman, waham bersalah dan
berdosa; ada suara-suara kejaran atau tuduhan dan halusinasi penglihatan
tentang hal-hal yang mengancamnya
3. Bunuh
diri
merasa hidup tak ada gunanya, mengharapkan
kematian atau pikiran-pikiran lain kearah itu, ada ide-ide bunuh diri atau
langkah-langkah ke arah itu.
4. Gangguan pola tidur (initial
insomnia)
Ada keluhan kadang-kadang sukar masuk tidur misalnya, lebih dari
setengah jam baru masuk tidur; ada keluhan tiap malam sukar masuk tidur
5. Gangguan
pola tidur (middle insomnia)
pasien mengeluh gelisah dan terganggu
sepanjang malam, terjadi sepanjang malam (bangun dari tempat tidur kecuali
buang air kecil)
6. Gangguan
pola tidur (late insomnia)
bangun saat dini hari tetapi dapat tidur
lagi, bangun saat dini hari tetapi tidak dapat tidur lagi
7. Kerja
dan kegiatan-kegiatannya
pikiran perasaan ketidakmampuan
keletihan/kelemahan yang berhubungan dengan kegiatan kerja atau hobi; hilangnya
minat terhadap pekerjaan/hobi atau kegiatan lainnya baik langsung atau tidak
pasien menyatakan kelesuan, keragu-raguan dan rasa bimbang; berkurangnya waktu
untuk aktivitas sehari-hari atau produktivitas menurun. Bila pasien tidak sanggup
beraktivitas, sekurang-kurangnya 3 jam sehari dalam kegiatan sehari-hari; tidak
bekerja karena sakitnya sekarang (dirumah sakit) bila pasien tidak bekerja sama
sekali, kecuali tugas-tugas di bangsal atau jika pasien gagal melaksanakan;
kegiatan-kegiatan di bangsal tanpa bantuan
8. Kelambanan
(lambat dalam berpikir , berbicara gagal berkonsentrasi, dan aktivitas motorik
menurun )
sedikit lamban dalam wawancara; jelas lamban
dalam wawancara; sukar diwawancarai; stupor (diam sama sekali)
9. Kerja
dan kegiatan-kegiatannya
kegelisahan ringan; memainkan tangan
jari-jari, rambut, dan lain-lain; bergerak terus tidak dapat duduk dengan
tenang; meremas-remas tangan, menggigit-gigit kuku, menarik-narik rambut,
menggigit-gigit bibir
10. Kecemasan
(ansietas somatik)
sakit nyeri di otot-otot, kaku, dan keduten
otot; gigi gemerutuk; suara tidak stabil; tinitus (telinga berdenging);
penglihatan kabur; muka merah atau pucat, lemas; perasaan ditusuk-tusuk
11. Kecemasan
(ansietas psikis)
ketegangan subyektif dan mudah tersinggung; mengkhawatirkan
hal-hal kecil; sikap kekhawatiaran yang tercermin di wajah atau pembicaraannya;
ketakutan yang diutarakan tanpa ditanya
12. Gejala somatik (pencernaan)
nafsu makan berkurang tetapi dapat makan tanpa dorongan teman,
merasa perutnya penuh; sukar makan tanpa dorongan teman, membutuhkan pencahar
untuk buang air besar atau obat-obatan untuk saluran pencernaan
13. Gejala somatik (umum)
anggota gerak, punggung atau kepala terasa berat; sakit punggung,
kepala dan otot-otot, hilangnya kekuatan dan kemampuan
14. Kotamil (genital)
sering buang air kecil terutama malam hari dikala tidur; tidak
haid, darah haid sedikit sekali; tidak ada gairah seksual dingin (firgid); ereksi hilang; impotensi
15. Hipokondriasis (keluahan somatik, fisik yang berpindah-pindah)
dihayati sendiri, preokupasi (keterpakuan) mengenai kesehatan
sendiri, sering mengeluh membutuhkan pertolongan orang lain, delusi
hipokondriasi
16. Gejala-gejala
obsesi dan kompulsi
Adapun cara penilaian masing-masing gejala
adalah sebagai berikut (A.Aziz,2007) :
0 : Tidak ada (tidak ada gejala sama sekali)
1 : Ringan (satu gejala dari pilihan yang ada)
2 : sedang (separuh dari gejala yang ada)
3 : berat (lebih
dari separuh dari gejala yang ada)
4 : sangat berat (semua gejala ada)
Untuk penilaian skornya yaitu (A.Aziz,2007) :
Kurang
dari 17 : tidak ada depresi
18
– 24 : depresi ringan
25
– 34 : depresi sedang
35
– 51 : depresi berat
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Depresi adalah suatu perasaan sedih dan pesimis yang
berhubungan dengan suatu penderitaan. Dapat berupa serangan yang ditujukan pada
diri sendiri atau perasaan marah yang dalam. (Nugroho, wahyudi: 2000)Depresi
atau melankolia adalah suatu kesedihan atau perasaan duka yang berkepanjangan.
(Stuart: 1998)
Skala depresi dapat bermanfaat untuk
memeriksa depresi atau distres psikologi menyeluruh. Gejala-gejala obsesi dan kompulsi
Adapun cara penilaian masing-masing gejala
adalah sebagai berikut (A.Aziz,2007) :
0 : Tidak ada (tidak ada gejala sama sekali)
1 : Ringan (satu gejala dari pilihan yang ada)
2 : sedang (separuh dari gejala yang ada)
3 : berat (lebih
dari separuh dari gejala yang ada)
4 : sangat berat (semua gejala ada)
Untuk penilaian skornya yaitu (A.Aziz,2007) :
Kurang
dari 17 : tidak ada depresi
18
– 24 : depresi ringan
25
– 34 : depresi sedang
35
– 51 : depresi berat
52
– 68 : depresi berat sekali
DAFTAR PUSTAKA
Isaac. 2003. Buku Pedoman Kesehatan Jiwa,
Jakarta : tp.
Watson R. 2003. Perawatan Pada Lansia,
Jakarta : EGC
Dadang Hawari D.
2002. Manajemen
Depresi, Jakarta : Gaya Baru

Mantap, terima kasih info
BalasHapus